Rabu, 18 Mar 2020 12:56 WIB

Cek Darah untuk 'Tes Corona', Seberapa Efektif Dibanding Cek Swab?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Corona Drive In can be read on a sign at an entrance to a parking lot in Schoenebeck, eastern Germany, Tuesday, March 17, 2020. Fever centres had been set up all over the country in the past few days. In Schoenebeck there is the possibility to drive with your own vehicle directly in front of a caravan. There you can get advice from a doctor and test yourself for Covid-19. Only for most people, the new coronavirus causes only mild or moderate symptoms, such as fever and cough. For some, especially older adults and people with existing health problems, it can cause more severe illness, including pneumonia. (Klaus-Dietmar Gabbert/dpa via AP) Tes corona di Jerman juga bisa dilakukan via drive thru (Foto: AP/Klaus-Dietmar Gabbert)
Topik Hangat Serba-serbi Tes Corona
Jakarta -

Pemerintah saat ini diharapkan dapat melakukan screening masif khsususnya bagi mereka yang pernah kontak langsung dengan pasien positif. Sayangnya hingga kini, tidak semua yang pernah kontak langsung dengan pasien positif atau sering disebut dengan ODP (orang dalam pemantauan), terlebih yang bergejala, mendapatkan tes swab atau pengambilan sampel dari nasofaring.

Di rumah sakit rujukan, kebanyakan ODP dicek terlebih dahulu kondisinya. Beberapa di antara ODP hanya disarankan untuk Medical Check Up dengan mengambil sampel darah dan rontgen paru.

"Dokter tahu betul, kan dokternya ahli semua, nanti tahu dari pemeriksaan darah, dari rontgen, nanti larinya ke mana, mereka tahu betul. Yakinlah dokternya hebat," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona, dr Achmad Yurianto, beberapa waktu lalu.

Namun, disebutkan oleh Ahmad Utomo, Principal Investigator di Stem Cell and Cancer Research Institute, jenis sampel yang digunakan bisa menghasilkan tingkat positivitas yang berbeda. Sampel darah disebut punya tingkat positivitas atau keakuratan yang minim dibandingkan sampel lainnya.

"Misalkan sampel darah, itu positivitasnya kecil sekali, cuma 1 dari 300. Tapi kalau ambil sampel dari bronkoskopi, itu paling tinggi 93 persen tapi ambilnya setengah mati, pasien harus dianastesi dan perlu keahlian khusus," katanya dalam diskusi yang digelar Society of Indonesian Science Journalists (SISJ) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

Memang pengetesan untuk virus saat ini yang relatif mudah dilakukan adalah tes swab atau nasofaring. Positivitasnya bisa mencapai sekitar 70 persen.

"Jadi ini menunjukkan bahwa sampling menentukan. Jadi biasanya saat pasien dirawat, nggak cuma sampling sekali tapi bisa berkali-kali," tutupnya.



Simak Video "Tips Aman Berkegiatan Sehari-hari Agar Bebas Virus Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)
Topik Hangat Serba-serbi Tes Corona