Sabtu, 28 Mar 2020 06:29 WIB

Inggris Kembangkan Alat Tes Corona yang Dapat Terhubung ke Smartphone

Anjar Mahardhika - detikHealth
BEIJING, CHINA - JANUARY 30: A sign instructs shoppers to wear protective masks at a mall on January 30, 2020 in Beijing, China. The number of cases of a deadly new coronavirus rose to over 7000 in mainland China Thursday as the country continued to lock down the city of Wuhan in an effort to contain the spread of the pneumonia-like disease which medicals experts have confirmed can be passed from human to human. In an unprecedented move, Chinese authorities put travel restrictions on the city which is the epicentre of the virus and neighbouring municipalities affecting tens of millions of people. The number of those who have died from the virus in China climbed to over 170 on Thursday, mostly in Hubei province, and cases have been reported in other countries including the United States, Canada, Australia, Japan, South Korea, and France. The World Health Organization has warned all governments to be on alert, and its emergency committee is to meet later on Thursday to decide whether to declare a global health emergency. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images) Ilustrasi virus corona COVID-19 (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Meluasnya persebaran virus corona COVID-19 di dunia membuat banyak negara melakukan inovasi dalam membuat alat pendeteksi virus ini. Baru-baru ini, Brunel University London, Lancaster University dan University of Surrey mengembangkan alat tes yang dapat mendeteksi virus corona hanya dengan 30 menit.

Nantinya alat ini bekerja dengan cara mengambil usap lendir hidung dan tenggorokan yang dimasukkan ke dalam perangkat tersebut. Pengguna tidak perlu ke laboratorium untuk mengetahui hasilnya karena dapat langsung melihat hasil tersebut melalui smartphone yang terhubung dengan alat ini.

Alat tes ini dibanderol dengan dengan harga 120 dolas AS atau setara Rp 1,9 juta dan dapat menguji enam orang secara bersamaan seperti dikutip dari TechCrunch.

Awalnya tes ini didasarkan pada teknologi yang telah digunakan di Filipina untuk menguji persebaran virus pada ayam, tetapi saat ini telah diadaptasi oleh para peneliti untuk digunakan mendeteksi virus corona COVID-19 pada manusia.

Tim peneliti yakin alat ini akan mendapat persetujuan dari Public Health England (PHE) sebelum diproduksi secara massal.



Simak Video "Tren 'Coronacuts', Potong Rambut Sendiri Selama Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)