Sabtu, 28 Mar 2020 11:20 WIB

Kontak dengan Pasien Positif Tapi Rapid Test Negatif? Ini Saran Dokter

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Petugas medis mengecek kesehatannya dengan mengambil sampel  darah dengan metode rapid test (pemeriksaan cepat) di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (25/3/2020). Pemeriksaan yang dilakukan khusus tenaga medis di Bekasi guna memutus mata rantai penyebaran virus COVID-19. ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/hp. Rapid test untuk tenaga medis. (Foto: ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah)
Jakarta -

Tes corona menggunakan rapid test kini telah dilakukan di berbagai tempat di Indonesia. Berbeda dengan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) yang mendeteksi virus corona melalui lendir saluran pernapasan. Rapid test memiliki cara kerja yang berbeda, yakni mendeteksi antibodi di dalam darah. Antibodi terbentuk 6-7 hari setelah seseorang terinfeksi.

Lantas seberapa efektif rapid test untuk mendeteksi virus corona pada seseorang?

"Jadi ketika disebutkan negatif tapi ada riwayat kontak itu belum aman, karena bisa saja masih dalam lingkup barrier. Artinya virus sudah masuk ke dalam tubuh kita, tapi belum bergejala dan virus belum terdeteksi oleh antibodi kita," jelas Prof Ari dalam konferensi pers daring FKUI Peduli COVID-19 pada Jumat (27/3/2020).Menurut Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, seseorang yang dinyatakan negatif setelah melakukan rapid test, bisa saja menjadi positif di kemudian hari.

Menurutnya bagi yang merasa mempunyai kontak dengan pasien virus corona, sebaiknya untuk mengisolasi diri sendiri selama 14 hari.

"Karena rapid test yang ada ternyata menilai antibodi, jika kita ada riwayat kontak sebaiknya kita dua minggu kemudian isolasi dulu," ucap Prof Ari.

"Apabila ada gejala demam, batuk dan sesak harus segera ke rumah sakit," tuturnya.



Simak Video "Prosedur Screening Massal dengan Rapid Test Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)