Selasa, 31 Mar 2020 14:04 WIB

Presiden Ghana soal Lockdown: Ekonomi Bisa Dihidupkan, Orang Mati Tidak

Firdaus Anwar - detikHealth
virus corona Beberapa negara memilih lockdown untuk hadapi COVID-19. (Foto: Getty Images/iStockphoto/wildpixel)
Jakarta -

Presiden Ghana, Nana Akufo-Addo, beberapa hari ini jadi sorotan karena sikap tegasnya soal lockdown menghadapi wabah virus corona COVID-19. Ucapannya yang menempatkan nyawa lebih penting dari ekonomi viral di media sosial.

"Kami tahu cara menghidupkan kembali ekonomi. Yang kami tidak tahu adalah bagaimana menghidupkan kembali orang yang mati," tulis akun Twitter resmi Nana pada tanggal 28 Maret 2020.

Ghana diketahui menerapkan kebijakan lockdown selama dua pekan sejak tanggal 30 Maret. Warga hanya diizinkan keluar rumah untuk membeli makanan, air, obat-obatan, serta menggunakan toilet umum.

Cuitan Nana mendapat apresiasi dan diretweet oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus berterima kasih atas pesan yang disampaikan Nana untuk dunia.




"Terima kasih atas pesan kuat untuk dunia saudaraku @NAkufoAddo, Presiden Ghana. Bersama untuk menciptakan dunia yang lebih sehat, aman, dan adil. Bersama untuk melawan COVID-19," kata Tedros lewat akun Twitternya.

Beberapa negara seperti China, Italia, dan masih banyak lainnya menerapkan lockdown sebagai upaya physical distancing. Tujuannya agar penyebaran virus bisa diperlambat sehingga sistem kesehatan tidak kolaps karena kelebihan pasien.

Lockdown memang bukan satu-satunya cara menghadapi wabah virus corona. Negara seperti Korea Selatan disebut-sebut berhasil mengendalikan wabah berkat upaya pengetesan dan pelacakan yang agresif.



Simak Video "Mau Cabut Lockdown? Penuhi 6 Syarat dari WHO"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)