Rabu, 01 Apr 2020 15:16 WIB

Perbedaan Kondisi Pasien Virus Corona, Mulai dari Ringan Hingga Berat

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Italia jadi salah satu negara dengan jumlah kasus COVID-19 yang cukup tinggi di luar China. Petugas medis di negara itu bahu membahu rawat pasien virus corona. Pasien virus corona. (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Virus corona mulai muncul pertama kali di akhir Desember tahun lalu. Selang beberapa waktu berlalu, virus corona COVID-19 menyebar ke seluruh dunia dan dinyatakan sebagai pandemi global.

Meski tingkat kematian yang ditimbulkan cenderung lebih rendah, namun penyebarannya tidak bisa dihentikan. Bagi sebagian besar orang, penyakit COVID-19 menunjukkan gejala ringan namun tidak sedikit juga yang meninggal karenanya.

Pada tahap awal infeksi virus SARS-CoV-2, penyebab COVID-19, kebanyakan tidak mengalami gejala pada masa inkubasi. Masa inkubasi antara infeksi dan gejala pertama muncul sangat beragam, namun rata-rata lima hari.

Berikut berbagai kondisi yang dialami pasien virus corona, mulai dari ringan hingga berat dikutip dari BBC.

1. Kondisi ringan

Kondisi ini banyak dialami oleh mereka yang terjangkit. Disebutkan 8 dari 10 orang yang terinfeksi COVID-19 menunjukkan gejala ringan seperti demam dan batuk.

Nyeri badan, sakit tenggorokan, dan sakit kepala juga bisa dialami. Umumnya, demam yang dirasakan adalah respon imun melawan infeksi. Imun telah menyerang virus dan memberi sinyal ke seluruh tubuh bahwa ada sesuatu yang salah dengan melepaskan sitokin.

Ini akan menguatkan sistem kekebalan tubuh, tetapi juga menyebabkan tubuh sakit dan demam. Batuk yang dialami oleh pasien COVID-19 cenderung batuk kerung dan disebabkan iritasi sel ketika terinfeksi virus.

Pada tahap ini, kebanyakan pasien tidak memerlukan perawatan khusus di rumah sakit. Kondisi ini akan berlangsung sekitar satu minggu, titik di mana sebagian besar tubuh pulih karena sistem kekebalan tubuh telah memerangi virus.

2. Kondisi sedang-berat

Jika kondisi ringan yang dialami tidak membaik, sistem kekebalan tubuh akan bereaksi berlebihan terhadap virus sehingga menyebabkan peradangan. Terlalu banyak peradangan dapat menyebabkan kerusakan kolateral di seluruh tubuh.

"Virus ini memicu ketidakseimbangan dalam respon kekebalan tubuh, ada terlalu banyak peradangan," kata Dr Nathalie MacDermott, dari King's College London.

Jika tidak membaik, pasien akan mengalami kondisi peradangan paru-paru atau pneumonia. Virus akan masuk ke mulut dan tenggorokan melalui tabung kecil di paru-paru dan menetap di kantong udara.

Pada pasien dengan kondisi berat, pneumonia akan terisi dengan air karena tidak ada udara yang masuk sehingga menyebabkan sesak dan kesulitan bernapas. Beberapa orang memerlukan ventilator untuk membantu pernapasan.

Kondisi ini diperkirakan mempengaruhi sekitar 14 persen kasus di seluruh dunia.

3. Kondisi berat-kritis

Diperkirakan sekitar 6 persen dari kasus COVID-19 mengalami kondisi kritis. Pada titik ini tubuh mulai gagal dan ada peluang kematian.

Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh mulai gagal mengontrol dan menyebabkan kerusakan di seluruh tubuh. Hal tesebut dapat menyebabkan syok septik sehingga tekanan darah turun ke tingkat rendah yang berbahaya dan organ-organ berhenti bekerja dengan baik atau gagal total.

Sindrom gangguan pernapasan akut yang disebabkan oleh peradangan luas di paru-paru menghentikan tubuh mendapatkan oksigen yang cukup yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Ini dapat menghentikan ginjal dari membersihkan darah dan merusak lapisan usus.

"Virus ini menyebabkan tingkat peradangan yang sangat besar sehingga ketika Anda meninggal ... itu menjadi kegagalan multi-organ," kata Dr. Bharat Pankhania.

Perawatan pada tahap ini akan sangat invasif dan dapat mencakup ECMO atau oksigenasi membran ekstra-korporeal atau paru-paru buatan yang mengeluarkan darah dari tubuh melalui tabung tebal, mengoksigenasi dan memompanya kembali.

Tetapi pada akhirnya kerusakan dapat mencapai tingkat fatal di mana organ tidak lagi dapat menjaga tubuh tetap hidup.



Simak Video "Yang Harus Dilakukan Jika Tak Bisa Cium Bau Seperti Gejala Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)