Rabu, 01 Apr 2020 16:53 WIB

Mungkinkah Seseorang Terinfeksi Virus Corona Dua Kali?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Wabah virus corona turut membuat kota Daegu di Korea Selatan menjadi sepi. Berbagai aktivitas di kota itu pun dihentikan untuk sementara waktu. Bisakah seseorang terinfeksi corona dua kali? (Foto: AP Photo/Kim Jong-un)
Jakarta -

Sebanyak 10 persen pasien virus corona yang meninggalkan fasilitas medis di Wuhan dinyatakan kembali terinfeksi virus corona COVID-19 usai sembuh. Menurut laporan South China Morning Post, ini bukan pertama kalinya ada yang menyatakan pasien kembali terinfeksi corona.

Meski begitu, para ilmuwan meyakini bahwa virus tak mungkin menyerang dua kali. Dokter di Wuhan pun kebingungan mendapati hal ini.

Bagaimana Pasien Corona Bisa Kembali Terinfeksi?

Menurut Rumah Sakit Tongji, tempat kasus pertama virus corona COVID-19 terdeteksi, mengumumkan bahwa dari 147 pasien yang dipulangkan ke rumah dalam waktu seminggu, lima di antaranya kembali dinyatakan positif yaitu sebanyak tiga persen. Ini adalah kasus untuk proporsi yang lebih tinggi dari pasien yang berada di pusat-pusat karantina, dengan angka berkisar dari 5 hingga 10 persen.

Sementara itu, pada akhir Februari, seorang wanita berusia 40 tahun dites positif sepuluh hari setelah meninggalkan pusat layanan kesehatan di Jepang, Osaka. Pada saat yang sama, seorang pria Tiongkok dari provinsi Jiangsu yang sudah dinyatakan pulih dari virus corona pun dirawat di rumah sakit tiga hari kemudian setelah kembali terinfeksi.

Banyaknya kasus yang kembali terinfeksi membuat para ilmuwan bingung. Contoh-contoh ini tampaknya menunjukkan bahwa virus corona COVID-19 berbeda dari saudaranya, seperti SARS dan MERS-CoV. Kedua virus ini tidak pernah menginfeksi orang yang sama dua kali.

"Selama infeksi virus, tubuh pasien mengembangkan antibodi yang sangat spesifik untuk virus yang menginfeksi mereka dan setelah mereka pulih, antibodi ini tidak hilang," kata Robin May, seorang profesor penyakit menular dan direktur Institut Mikrobiologi dan Infeksi di Universitas Birmingham.

"Mereka memasuki hibernasi, dan siap untuk bangun segera setelah patogen yang sama mencoba mencemari tubuh lagi. Karakteristik sistem kekebalan ini sama dengan semua virus yang dikenal," lanjutnya.

Sebuah penelitian mengenai virus corona COVID-19 menunjukkan bahwa mekanisme kekebalan ini bekerja. "Data yang kami peroleh dari Tiongkok menunjukkan bahwa pasien yang terinfeksi mengembangkan banyak antibodi yang kemungkinan melakukan tugasnya dalam melindungi tubuh," tambah Olivier Terrier, seorang ahli virologi di lembaga penelitian Perancis Pusat Penelitian Penyakit Menular Internasional CNRS di Lyon.

"Dari sudut pandang ilmiah tidak ada tanda pada tahap ini bahwa mungkin ada infeksi ulang," kata Lyon.

Lalu Mengapa Ada Kasus yang Kembali Terinfeksi?

Meski begitu, Tertier menjelaskan faktor kemungkinan pasien bisa kembali terinfeksi karena memiliki masalah dengan sistem kekebalan tubuh mereka.

"Penjelasan potensial lainnya adalah bahwa pasien virus corona ini mungkin memiliki masalah dengan sistem kekebalan tubuh mereka, sehingga mereka belum menghasilkan antibodi yang tepat", jelas Terrier.

Penjelasan lain juga dijelaskan tentang respons imun soal kemungkinan terinfeksi kembali melalui mutasi virus. "Jika patogen berubah sedemikian rupa sehingga tubuh tidak lagi mengenalinya, virus dapat menginfeksi seseorang dua kali," kata May.

Hal tersebut ia samakan dengan yang kasus yang terjadi pada penyakit flu. "Orang tidak mendapatkan jenis yang sama dua kali, tetapi mereka bisa mendapatkannya pada tahun berikutnya setelah virus sedikit bermutasi," lanjutnya.



Simak Video "Peneliti Ungkap Virus Corona Bisa Picu Diabetes pada Pasien"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)