Kamis, 16 Apr 2020 08:45 WIB

Ada Kemungkinan Reaktivasi, Apa Corona Bisa Lama Bersemayam di Tubuh?

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Positive blood test result for the new rapidly spreading Coronavirus, originating in Wuhan, China Ahli menyebut pasien sembuh yang kembali positif bisa karena reaktivasi virus. (Foto: iStock)
Jakarta -

Reaktivasi atau aktifnya kembali virus yang berada dalam tubuh menjadi kecurigaan para ahli sebagai penyebab beberapa pasien kembali positif setelah dinyatakan sembuh dari virus Corona COVID-19. Apakah hal ini menunjukkan virus Corona tidak bisa mati sepenuhnya di dalam tubuh?

Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME), Prof Amin Soebandrio, mengatakan virus Corona bisa mati jika didukung dengan sistem kekebalan tubuh yang bagus.

"Lama-lama si virus akan mati karena dia tidak punya kesempatan untuk membelah diri. Kan virus itu bisa membelah diri kalau dia masuk ke dalam sel hidup, kalau dia tidak bisa masuk ke dalam sel dia nggak akan bisa memperbanyak diri," kata Prof Amin kepada detikcom, Rabu (15/4/2020).

Menurut Prof Amin, virus itu berbeda dengan bakteri yang bisa tumbuh dan berkembang tanpa perlu menumpang hidup pada sel dalam tubuh.

Reaktivasi kemungkinan terjadi ketika pasien dinyatakan sembuh namun sebetulnya masih ada virus di bawah tingkat yang bisa dideteksi. Ketika sistem kekebalan tubuh turun, virus yang tak terdeteksi tersebut bisa kembali aktif mereplikasi.

"Artinya dia tidak menunjukkan gejala, tetapi masih ada di situ terus bertahan dalam sel sampai suatu ketika dia bisa muncul kembali," jelasnya.

Namun sekali lagi, Prof Amin mengatakan dengan tegas bahwa virus Corona bisa mati sepenuhnya dalam tubuh jika virus ini belum masuk ke dalam sel dan sang pasien memiliki sistem imunitas yang baik.

"Kalau si virus belum masuk ke dalam sel nanti lama-lama dia mati," tegasnya.



Simak Video "WHO Kunjungi China Pekan Ini untuk Telusuri Asal COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)