Selasa, 21 Apr 2020 12:15 WIB

Mengenalkan Arti Kekerasan Seksual pada Remaja Laki-Laki

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
ilustrasi anak menangis Mengajarkan anak pendidikan reproduksi sejak dini bisa jadi cara cegah anak jadi korban kekerasan seksual. (Foto: ilustrasi/thinkstock)

Upaya mengakhiri kekerasan seksual pada remaja perlu kerja sama antara seluruh lapisan masyarakat, terutama pemerintah untuk mengambil langkah tegas pada setiap pelaku. Sebab, saat ini, kekerasan seksual pada anak dan remaja juga terjadi di ranah media online, salah satunya dengan modus grooming.

Sesuai dengan definisi lembaga internasional Masyarakat untuk Pencegahan Kekejaman terhadap Anak-anak (National Society for the Prevention of Cruelty to Children/ NSPCC), grooming adalah suatu upaya yang dilakukan seseorang untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan hubungan emosional dengan seorang anak atau remaja, sehingga mereka dapat memanipulasi, mengeksploitasi, dan melecehkan.

Tidak ditangani bakal jadi pelaku?

Muncul anggapan bahwa anak laki-laki yang menjadi korban kekerasan seksual di masa lalu, jika tidak tertangani cenderung menjadi pelaku kekerasan seksual saat dewasa. Beberapa studi luar negeri juga menyebutkan, sekitar 30 persen pelaku kekerasan seksual mengalami trauma seksual di masa kecil.

dr Fransiska mengatakan anggapan itu masih dinyatakan kontroversi. Tentu saja bukan berarti bahwa semua anak atau remaja yang menjadi korban kekerasan seksual akan menjadi pelaku jika dewasa. Penelitian-penelitian yang menghubungkan adanya keterkaitan antara masa dewasa, sebagai pelaku, dengan riwayat masa kecil disebutkan dilakukan di tempat yang cukup berat.

"Statement tersebut masih kontroversi, banyak memang pelaku kejahatan masa kecilnya tidak hanya mengalami kekerasan seksual tapi sudah banyak masalah dalam keluarga, sosial ekonomi. Bukan hanya karena mengalami kekerasan seksual sehingga menjadi pelaku di masa dewasa," tuturnya.

Bagaimana jika pelaku adalah remaja?

Dalam beberapa kekerasan seksual, bukan hanya remaja yang menjadi korban. Pelaku juga ada yang melibatkan remaja. dr Fransiska menjelaskan ada beberapa alasan mengapa remaja menjadi pelaku kekerasan seksual.

Disebutkan bahwa bisa jadi remaja menjadi pelaku karena tidak mengerti atau tak diberi pemahaman mengenai seksualitas. Pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi komprehensif menjadi penting, sebab kebanyakan anak usia remaja mendapatkan pengetahuan terbatas mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas. Misal dari teman sebaya atau menonton film dan tayangan tertentu. Belum lagi jika orang tua menganggap pendidikan seks dan reproduksi adalah hal yang tabu sehingga meningkatkan rasa keingintahuan remaja.

"Tapi kalau sampai ada kejadian melecehkan, harus dicari tahu dulu dari mana dia mengetahui tindakan itu. Kemudian perlu kita nilai dan eksplorasi, jangan-jangan memang dia ada masalah pada pemahamannya tentang perilaku seks atau pencegahan kekerasan seks tidak ada. Karena dia tidak mengerti," jelas dr Fransiska.

Ia menambahkan mengajarkan kesehatan seksual dan reproduksi sedini mungkin dan terbuka pada anak menjadi salah satu cara untuk meminimalisir perilaku kekerasan seksual. Orang tua bisa mengajarkan anak tentang hal-hal yang terkait dengan kesehatan seksual dan reproduksi sesuai dengan usianya.

Halaman
1 2 Tampilkan Semua


Simak Video "Kata Psikolog Soal Siswi di Sulsel Dilecehkan Beramai-ramai"
[Gambas:Video 20detik]

(kna/up)