Kamis, 23 Apr 2020 13:05 WIB

Benarkah Genetik Pengaruhi Risiko Fatal karena Corona? Ini Kata Studi

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Ilustrasi virus Corona Studi sebut genetika pengaruhi faktor fatal karena virus Corona. (Foto ilustrasi: Dok. NIAID (National Institute of Allergy and Infectious Diseases))
Jakarta -

Baru-baru ini sebuah studi yang terbit di Journal of Virology pada 17 April, menemukan genetik tertentu menjadi risiko seseorang mengalami masa kritis hingga fatal karena virus Corona COVID-19. Disebutkan, sistem kekebalan tubuh dapat bereaksi pada virus karena gen tertentu yang membantu sel melawan virus atau kuman ketika masuk ke tubuh.

Melansir Live Science, gen-gen tersebut dikenal dengan human leukocyte antigen (HLA), yang mengandung instruksi membangun protein, terikat dengan patogen. Di mana protein berfungsi sebagai 'peringatan' pada sel-sel kekebalan tubuh.

Sel tersebut nantinya akan memulai proses pembentukan antibodi. Di mana setelahnya mulai melakukan proses pembentukan antibodi yang bertugas menghancurkan mereka.

Setiap orang memiliki gen HLA dengan tiga protein berbeda. Hal ini yang menentukan mana tubuh seseorang yang lebih baik atau lebih buruk dalam melawan kuman maupun virus Corona COVID-19.

Penelitian ini menggunakan model komputer yang memprediksi kombinasi HLA terbaik untuk mengikat SARS-Cov-2, begitu pun yang terburuk.

"Jika HLA tertentu dapat mengikat secara baik sebagian besar protein virus, tentunya kita berharap akan ada respons imun yang lebih protektif," jelas Abhinav Nellppre dan dr Reid Thompson, pemimpin kelompok riset di Oregon Health and Science University.

Ketika gen HLA mengikat lebih baik, berarti protein virus cenderung ditunjukkan dalam sel-sel kekebalan dan mendorong produksi antibodi yang spesifik.

"Jika interaksinya tidak stabil, Anda tidak memiliki respons kekebalan yang tepat," ujar dr Shokrollah Elahi, asisten profesor Departemen Mikrobiologis Medis dan Imunologi di Universitas Alberta.

Para peneliti mengungkap enam tipe HLA yang berbeda. Dari keenam tipe tersebut, tipe HLA yang dikenal sebagai HLA-B * 46:01 memiliki kapasitas terendah untuk mengikat virus.

Meski begitu para peneliti mengaku masih memerlukan data klinis untuk mengonfirmasi lebih lanjut hal tersebut. "Keterbatasan dari penelitian kami adalah ini dilakukan sepenuhnya pada komputer dan tidak melibatkan data klinis pasien COVID-19," jelas mereka dalam penelitiannya.



Simak Video "WHO Sebut 3 Tempat yang Mudah Tularkan Virus Corona "
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)