Selasa, 28 Apr 2020 13:04 WIB

4 Gadis Bunuh Driver Taksi Online, Perilaku Sadis Tak Pandang Jenis Kelamin

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Polisi amankan 4 pelaku pembunuhan driver taksi online di Bandung. Keempat pelaku diduga rencanakan pembunuhan karena tak sanggup bayar ongkos perjalanan. Para pelaku pembunuhan driver taksi online (Foto: Muhammad Iqbal)
Jakarta -

Polisi berhasil mengamankan empat pelaku pembunuhan Samiyo Basuki Riyanto (60), seorang pensiunan PNS yang bekerja sebagai driver taksi online. Diduga keempat pelaku itu melakukan pembunuhan karena tidak sanggup bayar ongkos perjalanan dari Jakarta ke Pangalengan.

Korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa dengan bekas luka robek dan lebam di sekujur tubuh, di tepi jurang sisi Jalan Raya Banjaran-Pangalengan, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Senin (30/3/2020).

Polisi kemudian melakukan penyelidikan, hingga akhirnya IK (15), RM (18), RK (20), dan SL (19) ditangkap dua minggu setelah kejadian. Mereka ditangkap di lokasi berbeda.

"Kita berhasil mengungkap dan menangkap pelakunya sebanyak empat orang, keempatnya berjenis kelamin perempuan," ungkap Kapolresta Bandung Kombes Hendra Kurniawan, Senin (27/4/2020).

Menurut psikolog klinis dari MS Wellbeing, Mario Carl Joseph, MPsi, tindak kejahatan maupun perilaku sadis tidak berhubungan dengan jenis kelamin.

"Laki-laki dan wanita semua sama saja. Semua bisa berpotensi untuk melakukan kekerasan, yang penting adalah bagaimana mereka tumbuh dan berkembang," kata Mario kepada detikcom, Selasa (28/4/2020).

"Jadi nggak ada yang namanya laki-laki lebih cenderung mudah melakukan kekerasan dibanding wanita, itu salah. Sama saja kok karena tergantung latar belakang individu tersebut," lanjutnya.

Terlebih menurut Mario, keempat pelaku ini masih dalam usia remaja dan belum memiliki kemampuan untuk memahami nilai atau dasar-dasar berperilaku yang baik.

"Saya pikir empat remaja ini kurang memiliki nilai-nilai atau dasar prinsip hidup yang seharusnya mereka temukan dalam masa remajanya. Mungkin saja keempat remaja ini berdasarkan latar belakang keluarga broken home bisa saja seperti itu," jelasnya.

Mario menjelaskan kurangnya kemampuan dalam mengontrol emosi juga berperan penting saat mengambil keputusan. Terlebih keempat pelaku tersebut adalah remaja, yang di mana belum mempunyai kemampuan mengontrol emosi dengan baik.

"Mereka pergi sama-sama kemudian tidak ada satu pun yang punya prinsip yang lebih kuat daripada yang lain. Akhirnya jadi seperti itu, panik-panik semua nggak ada yang bisa mengendalikan," pungkasnya.



Simak Video "Apa Sih Quarter Life Crisis?"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)