Rabu, 03 Jun 2020 12:30 WIB

Surabaya Jadi 'Zona Hitam' Virus Corona, Bagaimana Caranya Kembali ke Hijau?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Dishub Kota Surabaya pasang alat semprot disinfektan di bawah JPO di Frontage Road Ahmad Yani. Hal itu dilakukan sebagai upaya pencegahan penyebaran Corona. Surabaya jadi zona hitam virus Corona, bagaimana caranya kembali ke zona hijau? (Foto ilustrasi: Deny Prastyo Utomo)
Jakarta -

Surabaya hingga saat ini jadi kota dengan kasus COVID-19 terbanyak di Jawa Timur. Dalam peta sebaran kasus virus Corona COVID-19, Kota Surabaya tampak hitam.

Gubernur Khofifah Indar Parawansa menjelaskan peta tersebut sebetulnya menunjukkan warna merah tua akibat banyaknya laporan jumlah kasus COVID-19.

"Kemudian ada yang tanya, itu (di peta) kok ada yang hitam. Itu bukan hitam tapi merah tua. Seperti Sidoarjo yang angka kasusnya 500 sekian merah sekali, kalau angkanya dua ribu sekian (seperti di Surabaya) merah tua," kata Khofifah.

Bagaimana caranya agar Surabaya bisa kembali ke zona hijau?

Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia, Dr dr Tri Yunis Miko Wahyono, MSc, menjelaskan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk merubah 'zona hitam' kembali ke hijau.

"Jadi kalau Surabaya hitam itu karena insidennya banyak di Surabaya, oleh karena itu caranya ya harus mengurangi ke merah, mengurangi ke kuning, kemudian baru ke hijau. Jadi nggak bisa kita dari hitam langsung ke hijau, atau ke biru," ungkapnya saat dihubungi detikcom, Rabu (3/6/2020).

1. Mal ditutup

Menurut dr Tri, tahapan pertama yang penting dilakukan adalah dengan menutupnya mal-mal di Surabaya. Hal ini penting untuk memaksimalkan pencegahan penyebaran virus Corona COVID-19.

"Jadi yang harus dilakukan di Surabaya mal-malnya ditutup, karena sekarang mal Surabaya masih buka dengan insiden kasus (Corona) yang masih banyak," jelas dr Tri.

2. PSBB yang ketat

"Fokus pada daerah atau RW, kelurahan kecamatan, yang banyak kasusnya. Kalau kasusnya benar-benar diisolasi, tidak keluar rumah begitu, jadi pastikan kasus yang ada di kelurahan atau kecamatan yang banyak kasusnya terisolasi," lanjut dr Tri.

dr Tri menyarankan agar benar-benar membatasi aktivitas warga yang keluar jika tidak dalam keadaan mendesak atau apapun.

3. 80 persen atau 70 persen orang kerja di rumah

Penerapan PSBB yang ketat bisa dikatakan efektif jika jalanan sudah terlihat sepi dan sebagian besar warga bekerja dari rumah.

"Kalau 80 persen atau 70 persen orang kerja dari rumah dan jalanan sepi. Itu (kasus Corona) nggak akan berkurang dari hitam ke hijau kalau penerapan PSBBnya nggak ketat, jadi jangan main-main begitu," pungkasnya.



Simak Video "WHO Kunjungi China Pekan Ini untuk Telusuri Asal COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)