Selasa, 23 Jun 2020 14:30 WIB

Beban Ganda Infeksi Virus di Asia Tenggara, Corona dan DBD

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Beban ganda infeksi terjadi di Asia Tenggara (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Wabah demam berdarah dan virus Corona yang menghantam wilayah Asia Tenggara akan menimbulkan tantangan baru bagi tenaga kesehatan. Para ahli mengingatkan adanya infeksi ganda ini akan membuat kasus virus Corona sulit terdeteksi.

Terlebih laporan dokter dalam jurnal medis The Lancet menunjukkan kesamaan antara penyakit yang ditularkan oleh nyamuk itu dan virus Corona sehingga bisa menyebabkan hasil positif palsu.

"Penyakit dengue dan virus Corona (COVID-19) sulit dibedakan karena memiliki gejala klinis dan hasil laboratorium yang sama," tulis penulis dari Sistem Kesehatan Universitas Nasional Singapura, Rumah Sakit Umum Ng Teng Fong, dan Institut Kesehatan Lingkungan, dikutip dari SCMP.

Adanya pembatasan sosial membuat orang-orang menghabiskan lebih banyak wwaktu di rumah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyebut pembatasan ini membuat masyarakat menjadi tidak membersihkan tempat-tempat sarang nyamuk di lingkungan mereka.

Hal tersebut tentu akan memperburuk wabah demam berdarah. Di Indonesia sendiri, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan RI, dr Siti Nadia Tarmizi, mengatakan ada 68 ribu kasus DBD di Indonesia.

"Dari 460 kabupaten/kota yang melaporkan kasus demam berdarah, sebanyak 410 itu adalah kabupaten/kota yang juga melaporkan adanya COVID, jadi ada infeksi ganda," jelas dr Nadia dalam siaran langsung BNPB yang ditulis Selasa (23/6/2020).

Sementara itu, di negara tetangga Malaysia, kasus mingguan naik sebanyak 1.927. Menurut Kementerian Kesehatan Malaysia, perkiraan gelombang wabah DBD akan berlangsung hingga September. Musim hujan yang lebih lama dari yang diperkirakan membuat angka infeksi DBD di sana cenderung naik.

Singapura sendiri, dalam data yang dihimpun Badan Lingkungan Nasional, setidaknya lebih dari 11 ribu orang telah terinfeksi DBD. Disebutkan bahwa wabah DBD tahun ini bisa melampaui rekor kasus yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya dan menjadi wabah demam berdarah terbesar dalam sejarah Singapura.

Demam berdarah Dengue telah menjadi endemik di beberapa negara di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, yang telah berlangsung selama beberapa dekade.

"Meski ada risiko infeksi (DBD) di 129 negara, 70 persen beban aktual ada di Asia," tulis WHO.



Simak Video "Punya Gejala Demam Tinggi, Ini Beda DBD dan COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)