Rabu, 24 Jun 2020 13:28 WIB

WHO Ubah Syarat Akhiri Isolasi Pasien Corona, Tak Harus 2 Kali Negatif PCR

Firdaus Anwar - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. Selama ini tes PCR jadi syarat mengakhiri masa isolasi pasien Corona. (Foto ilustrasi: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengubah panduan terkait isolasi pasien yang positif terinfeksi COVID-19. Sebelumnya pasien baru dikatakan sembuh dan boleh keluar dari isolasi ketika tes polymerase chain reaction (PCR) menunjukkan hasil negatif sebanyak dua kali.

Dalam rangkuman yang diunggah di situs resmi WHO pada 17 Juni lalu, kriteria pelepasan isolasi kini diubah berdasarkan gejala klinis pasien. Artinya pasien yang positif COVID-19 bisa keluar dari isolasi tanpa harus menjalani dan menunggu hasil tes PCR.

"Kriteria yang telah diperbarui ini berlandaskan temuan terbaru bahwa ada pasien yang gejalanya sudah sembuh, namun tes PCR-nya masih bisa positif untuk COVID-19 (SARS-CoV-2) selama beberapa minggu. Meski hasilnya masih positif, kemungkinan pasien-pasien ini tidak lagi infeksius dan oleh sebab itu tidak bisa menularkan virus ke orang lain," tulis WHO seperti dikutip pada Rabu (24/6/2020).

Dalam panduan terbaru, WHO menulis pasien positif yang bergejala bisa menjalani masa isolasi minimal selama 10 hari setelah gejala muncul ditambah tiga hari setelah gejala reda. Sementara itu untuk mereka yang asimtomatik atau biasa disebut orang tanpa gejala (OTG), masa isolasinya 10 hari ditambah tiga hari setelah terbukti tes positif.

Berikut detail contoh yang diberikan WHO:

Pasien bergejala (batuk dan demam) dua hari, isolasinya 10 + 3 = 13 hari
Pasien bergejala 14 hari, isolasinya 14 + 3 = 17 hari
Pasien bergejala 30 hari, isolasinya 30 + 3 = 33 hari

WHO menyebut negara-negara bisa bebas memilih metode waktu isolasi mana yang mau dianut.

"Negara-negara bisa tetap memilih menggunakan pemeriksaan PCR sebagai kriteria pelepasan pasien. Bila memang demikian, pedoman dua kali hasil tes PCR negatif selama kurang dari 24 jam masih bisa tetap digunakan," tulis WHO.



Simak Video "WHO Sebut 3 Tempat yang Mudah Tularkan Virus Corona "
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)