Jumat, 26 Jun 2020 13:54 WIB

Penjelasan RSHS Bandung Soal Terapi Plasma Konvalesen untuk COVID-19

Siti Fatimah - detikHealth
Plasma darah kuning/Istimewa Plasma darah kuning (Foto: RSHS)
Bandung -

Saat ini terapi plasma konvalesen atau donor plasma darah sudah dilakukan di berbagai rumah sakit termasuk Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS). Penggunaan plasma darah dari penyintas COVID-19 dipercaya dapat memberikan anti virus bagi pasien positif, sehingga dapat menurunkan angka kematian dan komplikasi. Pasien yang awalnya positif dan bergejala berat hingga kritis dapat tertolong dengan pemberian terapi plasma konvalesen

"Jadi komvalesen itu artinya sembuh, pasien yang dulunya positif lalu sembuh memiliki banyak zat anti melawan virus. Biasanya kita periksa 14 hari atau 28 hari setelah sembuh, kadarnya (zat anti virus) masih sangat tinggi. Nah kalau kita ambil nyumbang darahnya (diambil plasma darah kuning) kalau kita sumbangkan kepada pasien yang gejala berat atau kritis yang menggunakan ventilator maka sebagian besar penelitian di Wuhan, Amerika, dan Eropa itu angka meninggalnya berkurang, lama rawat di rumah sakit juga berkurang, dan komplikasi organ pada jantung dan ginjal berkurang," kata Ketua Koordinator Terapi Plasma Konvalesen RSHS Ruswana Anwar saat dihubungi detikcom, Jumat (26/6/2020).

Dia menjelaskan, plasma kompalisen ini mengandung zat antibodi yang melawan virus dan membantu penderita dengan gejala berat untuk melawan komplikasi organ. Ruswana mengatakan, virus COVID-19 ini dapat dikategorikan 80 persen ringan tanpa gejala dan 20 persen menuju berat. Dari 20 persen, 5 persen di antaranya kritis dan harus menjalani perawatan dengan menggunakan alat bantu pernapasan mekanik (ventilator).

Lebih lanjut, ada beberapa prosedur yang harus terpenuhi selama menggunakan terapi plasma konvalesen. Ruswana mengatakan, pasien yang sudah sembuh COVID-19 dapat mendonorkan plasma darahnya jika sudah mendapatkan hasil swab negatif selama dua kali berturut-turut ditambah dengan pengecekkan kondisi kesehatan tubuh secara umum dan dipastikan tidak ada potensi penyakit menular lainnya. Sehingga terapi ini bisa terlaksana dengan baik dan aman.

"Prosedurnya, pasien harus sudah sembuh dari COVID-19 minimal 14 sampai 28 hari. Sembuh itu pada waktu pulang negatif dua hari berturut-turut. Umurnya harus diatas 18 sampai 65 tahun, ketiga, bebas dari infeksi menular lewat darah (HIV, Aids, Hepatitis B dan C, dan penyakit menular sivilis) berat badan di atas 48 dan tes kesehatan umum. Pada pelaksanaan, pasien duduk agak sedikit nyender dan sebelahnya ada mesin mengambil darah seperti pada umumnya, tapi mesin apheresis ini akan memisahkan butiran merah dan cairan kuning," katanya.

Seluruh prosedur berlangsung selama 45 menit. Kemudian dari satu pendonor sekitar 400 cc cairan plasma darah yang diambil bisa disimpan 40 hari atau bisa disimpan selama 1 tahun dengan suhu minus 18 derajat celcius. Diberikan 200 ml hari pertama dan hari ketiga diperuntukkan satu pasien.

"Kalau sudah banyak bisa digunakan di Jabar atau disumbangkan ke kota lain," ujarnya.

Ruswana mengatakan, dengan melakukan donor plasma konvalesen maka pendonor sudah menyelamatkan satu jiwa penderita COVID-19 dan membantu rumah sakit dalam menangani wabah pandemi ini. Idealnya, kata dia, menggunakan vaksin, namun ternyata vaksin tidak bisa ditemukan dalam waktu dekat. Obat yang diberikan oleh RS lebih banyak suportif atau bantuan dukungan dengan memberikam antibiotik, antivirus, mineral atau vitamin C dan D, kalsium, dan percobaan dexamethasone. Berbeda dengan donor darah pada umumnya, donor plasma konvalesen bisa dilakukan kembali setelah selang dua minggu kemudian.

Kemudian, dia mengatakan, metode terapi ini pertama digunakan RSPAD Gatot Soebroto.

"Mereka sudah melakukan terapi kepada 10 pasien, kemudian RSHS, RS Kariadi Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Bali, dan Makasar, jadi ada 13 RS. Ditambah dari Kemenkes lewat Litbangkes ketuanya Abdul Qadir kemarin sudah membuat panduannya," tuturnya.

Terapi plasma konvalesen telah digunakan di RSHS sejak 5 Juni 2020 lalu dan mulai diberikan pada pasien positif COVID-19 di ruang ICU khusus (ruang kemuning). Pada hari kesepuluh, dari perawatan hasil labnya membaik. "Demamnya sudah tidak ada, tinggal perbaikan organ karena paru-parunya masih terdapat gangguan aliran udara dan fungsi faktor pembekuan darah belum stabil. Tapi pasien bisa kita keluarkan dari ruang ICU ke ruang perawatan khusus di ruang biasa. Mudah-mudahan minggu depan pasien bisa pulang," tambahnya.

Saat ini, pihaknya tengah mencari calon pendonor plasma konvalesen yang kemudian akan digunakan sebagai terapi bagi pasien positif di RSHS sebagai rumah sakit rujukan nasional.

"Calon donor kemarin ada tiga hanya saja satu pendonor di dalam darahnya masih ada riwayat hepatitis B yang tidak bisa menjadi pendonor. Dari tiga laki-laki, dua sudah didonorkan plasma konvalisennya. Hari ini akan dilakukan donor plasma dari seorang wanita yang belum pernah hamil dan melahirkan. Karena aman didonorkan ke semua orang, setelah di screaning kemarin dia menderita covidnya sebulan yang lalu, kamis (25/6/2020) kemarin sudah di cek dan akan diambil darahnya di Hasan Sadikin," ungkapnya.



Simak Video "WHO Sebut 3 Tempat yang Mudah Tularkan Virus Corona "
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)