Kamis, 02 Jul 2020 18:30 WIB

Sejumlah Pakar Anggap Virus Flu Babi G4 Tak Mengkhawatirkan, Ini Alasannya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Riset di Cina Peringatkan Kandidat Virus Pandemi Baru dari Babi Sejumlah pakar menganggap virus flu babi G4 tak mengkhawatirkan. (Foto: DW (SoftNews))
Topik Hangat Virus Baru G4
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, peneliti di China menemukan jenis virus yang dikhawatirkan bisa berpotensi menjadi pandemi setelah COVID-19. Virus yang diberi kode G4 EA H1N1 atau G4 ini termasuk dalam varian dari virus flu babi H1N1.

Tapi, beberapa ahli kesehatan mengatakan virus G4 ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Profesor epidemiologi dan peneliti dari University of California, Amerika Serikat, Christine Johnson, VMD, MPVM, PhD, mengatakan penyakit zoonosis bisa muncul setiap saat.

"Untuk menentukan virus bisa menjadi pandemi adalah harus menular dari manusia ke manusia. Ini (virus G4) tidak akan menyebabkan pandemi, sementara hanya bisa ditularkan dari babi ke manusia saja," katanya yang dikutip dari Healthline, Kamis (2/7/2020).

Penularan penyakit zoonosis bervariasi, bisa dari babi ke manusia, kelelawar ke manusia, atau dari binatang buas lainnya. Menurut Johnson, sulit untuk memprediksi apakah virus itu bermutasi dan kapan bisa menular antarmanusia.

Menurut ahli virus sekaligus kepala departemen biologi di Texas A&M University-Texarakan, Benjamin Neuman, PhD, hewan babi dianggap sebagai 'wadah percampuran' virus. Ini karena sel inang babi bisa menggabungkan banyak virus, bahkan menghasilkan virus baru.

"Babi rentan terhadap beberapa virus seperti flu burung dan manusia hingga menghasilkan virus baru yang berpotensi menginfeksi manusia," ujar Neuman.

Neuman mengatakan, itulah pentingnya melacak babi-babi yang kemungkinan terinfeksi virus yang bisa memicu wabah di masa depan. Berdasarkan hasil pengawasan tim peneliti, mereka mengidentifikasi 179 virus flu babi pada hewan babi.

"Virus flu ini adalah potongan-potongan dari flu burung, H1N1, dan flu babi yang tampaknya akan tumbuh dengan baik di dalam sel manusia. Itu bisa berpotensi menyebabkan pandemi, tapi sampai saat ini kami belum menemukan bukti virus ini menyebabkan masalah yang nyata," jelas Neuman.

Direktur eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Dr Michael Ryan, dalam konferensi pers mengatakan bahwa virus G4 ini bukanlah virus baru, tapi tetap diawasi.

WHO menyebutkan bahwa virus flu babi sudah diawasi sejak 2011 lalu, bahkan pengawasannya pun tetap diperketat seiring dengan temuan studi China soal potensi menjadi pandemi. Bahkan WHO telah bekerja sama dengan otoritas China terkait antisipasi virus flu babi G4.

"Sudah di bawah pengawasan sejak 2011, dan pada kenyataannya publikasi terbaru adalah publikasi dari semua data pengawasan dari waktu ke waktu. Dan jelas melaporkan, baik tentang evolusi virus ini dalam populasi babi," jelas Ryan.

Selain itu, virolog dari Universitas Udayana, Bali, Prof Ngurah Mahardhika, mengatakan untuk tidak perlu galau dengan adanya virus dari babi ini. Menurutnya, virus ini tidak memiliki daya kejut untuk memicu pandemi.

Prof Ngurah Mahardhika mengatakan, agar sebuah virus dari hewan ke manusia bisa menjadi pandemi, virus itu harus benar-benar baru dan muncul secara tiba-tiba.

"Jika 10 persen orang yang di test sudah punya antibodi (virus flu babi), jumping species barrier sudah lama terjadi. Dan penularan human to human sudah lama terjadi. Begitu ilmu yang saya pelajari. Ini tidak merisaukan saya," jelasnya melalui postingan di akun Facebook miliknya.



Simak Video "Virus Flu Babi G4 Disebut Berpotensi Jadi Pandemi, Ini Alasannya"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)
Topik Hangat Virus Baru G4