Jumat, 03 Jul 2020 16:28 WIB

Ada Lebih dari 70.000 Kasus DBD di RI, Penanganannya Terhambat Corona

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Petugas melakukan pengasapan (fogging) di kawasan Pasar baru, Jakarta, Selasa (7/4/2020). Kegiatan tersebut guna memberantas nyamuk Aedes aegypti sekaligus mencegah wabah demam berdarah dengue (DBD). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc. Ada lebih dari 70.000 kasus DBD di RI, penanganannya terhambat Corona. (Foto: ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Jakarta -

Kasus penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD) kian meningkat di tengah pandemi Corona. Bahkan, menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, saat ini sudah ada lebih dari 70 ribu kasus DBD di Indonesia.

"Kasus DBD di Indonesia minggu dari minggu ke 1 sampai dengan minggu ke 27 dari tahun 2020 jumlah kasus DBD lebih dari 70.000 kasus. Kasusnya tersebar di 34 provinsi dan 465 kabupaten/kota dengan jumlah kematian hampir 500 orang," kata anggota tim komunikasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, dr Reisa Broto Asmoro, lewat siaran BNPB, Jumat (3/7/2020).

Tak hanya itu, kasus penularan DBD pun mayoritas terjadi di wilayah yang juga memiliki kasus COVID-19 di Indonesia, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Lampung, dan Sulawesi Selatan.

dr Reisa menjelaskan, penyebab utama dari tingginya kasus penularan DBD adalah terhambatnya penanganan penyakit ini akibat pembatasan kegiatan di masyarakat selama pandemi Corona berlangsung.

"Di situasi pandemi ini, para petugas kesehatan yang biasanya memantau DBD dalam sistem door to door mendistribusikan larvasida kepada penduduk yang juga dikenal sebagai juru pemantau jentik atau jumantik menyebabkan kinerjanya terhambat selama pandemi," jelasnya.

"Kewajiban kebersihan yang biasanya rutin dilakukan satu bulan sekali terhambat karena pembatasan kegiatan masyarakat akibat merebaknya COVID-19," pungkasnya.



Simak Video "dr. Reisa Ingatkan Bahaya DBD di Tengah Pandemi COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)