Selasa, 07 Jul 2020 05:23 WIB

3 Catatan Soal Klaim Virus Corona Menular Lewat Udara

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Virus Corona COVID-19 (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Sebanyak 239 ilmuwan dari 32 negara mengklaim punya bukti bahwa ukuran partikel virus Corona sangat kecil sehingga bisa menular lewat udara alias airborne. WHO diminta merevisi rekomendasinya.

Jika klaim ini benar, maka akan ada banyak hal yang harus disesuaikan. Misalnya, cukupkah penularannya dicegah hanya dengan jaga jarak sejauh 1-2 meter?

Sebelum ikut-ikutan panik, berikut catatan detikcom seputar penularan virus secara airborne atau lewat udara.

Apa artinya airborne?

Dikutip dari NYtimes, virus yang menular secara airborne artinya bisa terbawa dan ditularkan lewat udara. Berbeda dengan istilah penularan droplet yang jangkauannya lebih terbatas, penularan lewat airborne bisa menjangkau jarak yang lebih jauh.

Untuk bisa menular lewat udara, partikel virus harus sangat kecil dan punya kemampuan bertahan hidup lebih lama di udara. Partikel yang lebih kecil akan membentuk aerosol yang terbawa oleh udara.

Kalau begitu, masih perlukah jaga jarak?

Selama ini, protokol pencegahan virus Corona menganjurkan physical distancing sejauh 1-2 meter. Jarak tersebut adalah jangkauan droplet menyebar, dengan asumsi bahwa virus Corona tidak menular secara airborne.

Meski kemudian terbukti menular secara airborne, jaga jarak dan rajin cuci tangan tetap akan mengurangi risiko penularan. Makin dekat dengan seseorang yang terinfeksi, kemungkinan menghirup aerosol dan tertular virus akan semakin besar.

Bagaimana mencegahnya?

Menghindari kerumunan tetap menjadi langkah pencegahan terbaik. Risiko penularan di luar ruangan lebih kecil dibanding di dalam ruangan. Jika harus berada di dalam ruangan, membuka jendela akan lebih baik dibanding menggunakan pendingin udara.



Simak Video "Virus Corona Diklaim Dapat Menular Lewat Udara"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)