Kamis, 09 Jul 2020 10:35 WIB

WHO Sebut Wabah Pes di China Tidak Berisiko Tinggi

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Wabah pes di China: Warga Mongolia dilarang berburu dan makan hewan marmot WHO sebut wabah pes di China tak berisiko tinggi. (Foto: BBC World)
Jakarta -

Wabah pes yang menyebar di Mongolia Dalam, membuat Otoritas China siaga tiga. Seorang pasien yang berprofesi sebagai peternak yang kini sedang menjalani karantina dan kondisinya dilaporkan stabil.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut pihaknya memantau kasus pes di wilayah tersebut tapi mengatakan penyakit itu 'tidak berisiko tinggi'.

"Wabah pes telah ada berabad-abad. Kami melihat jumlah kasus di China sudah cukup dikelola dengan baik," kata Margaret Harris, Juru Bicara WHO dikutip dari BBC.

"Saat ini kami tidak menganggapnya berisiko tinggi, tetapi kami tetap mengawasinya dengan cermat," sambungnya.

Wabah pes, yang disebabkan oleh infeksi bakteri, bertanggung jawab atas salah satu epidemi paling mematikan dalam sejarah manusia yakni Black Death, yang menewaskan sekitar 50 juta orang di Afrika, Asia, dan Eropa pada abad ke-14.

Sejak saat itu terjadi beberapa wabah besar. Ini menewaskan sekitar seperlima dari populasi London selama Wabah Besar 1665, sementara lebih dari 12 juta tewas dalam wabah selama abad ke-19 di China dan India.

Wabah pes sendiri adalah penyakit yang ditularkan hewan ke manusia melalui kutusnya. Penyakit ini memiliki tingkat risiko kematian sebesar 30 hingga 60 persen. Meski demikian kini disebutkan penyakit pes dapat diobati dengan antibiotik.



Simak Video "China Tingkatkan Kewaspadaan Terhadap Wabah Bubonic"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)