Jumat, 10 Jul 2020 11:34 WIB

Remdesivir Dijual di Pasar Gelap, Harganya Melonjak Rp 7 Juta Per Botol

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Virus corona: Perusahaan India dan Pakistan akan produksi Remdesivir untuk perangi virus corona, namun itu bukan peluru ajaib Harga rendesivir melonjak jadi 7 juta per botol. (Foto: BBC World)
Jakarta -

Obat antivirus remdesivir diketahui jadi kandidat pengobatan potensial bagi pasien COVID-19. Sayangnya obat ini justru dijual secara ilegal di pasar gelap atau black market di India, salah satu negara dengan kasus virus Corona terbanyak di dunia.

Di India, remdesivir sendiri telah disetujui untuk uji klinis dan boleh diresepkan bagi pasien COVID-19 dalam keadaan darurat. Tapi stok remdesivir di India langka karena diperjualbelikan di pasar gelap.

Berdasarkan penelusuran tim BBC di India, beberapa orang yang berusaha mendapatkan obat remdesivir harus membayar berkali-kali lipat untuk mendapatkannya.

"Saya bisa memberimu tiga botol, tetapi masing-masing akan berharga 30.000 rupee (Rp 5,8 juta) dan kamu harus segera mengambilnya," kata salah satu penjual di pasar gelap yang mengaku bekerja di perusahaan farmasi.

Harga resmi untuk setiap botol remdesivir adalah 5.400 rupee atau sekitar Rp 1 juta dan pasien biasanya membutuhkan sekitar lima sampai enam dosis terlebih bagi yang dirawat inap di rumah sakit. Harga yang dijual di pasar gelap bisa jauh lebih mahal. Pria lain bahkan membandrol harga 38.000 rupee atau sekitar Rp 7,3 juta per botolnya.

Permintaan remdesivir meningkat didasari oleh fakta bahwa obat antivirus tersebut berhasil memangkas durasi gejala dan perawatan COVID-19, dari 15 hari menjadi 11 hari dalam uji klinis di beberapa rumah sakit di seluruh dunia.

Pakar kesehatan telah memperingatkan bahwa remdesivir bukan 'silver bullet' atau solusi yang ajaib. Tapi dengan belum adanya obat yang terbukti 'ampuh' di India, para dokter akhirnya tetap meresepkan remdesivir pada pasien COVID-19.

Sementara itu, Gilead Sciences, perusahaan farmasi yang mengembangkan dan memproduksi remdesivir, telah mengizinkan empat perusahaan India yakni Cipla, Jubilant Life, Hetero Drugs dan Mylon untuk memproduksinya di India. Namun sejauh ini baru perusahaan Hetero yang memproduksi remdesivir.

Kepada BBC, wakil presiden penjualan obat Hetero, Sandeep Shahstri mengatakan mereka tidak tahu mengapa obat remdesivir bisa dijual secara ilegal di pasar gelap.

"Kami belum memberikan obat kepada distributor. Sesuai pedoman, kamu langsungmemasuk vial ke rumah sakit," ujarShahstri.



Simak Video "WHO: Obat Virus Corona COVID-19 Masih Diuji Klinis"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)