Jumat, 10 Jul 2020 17:20 WIB

Viral Sayembara Misuh, Psikolog: Bagian dari Katarsis, Bukan Budaya Jawa

Pradito Rida Pertana - detikHealth
Angry, furious businesswoman throws a punch into computer, screaming. Negative human emotions, facial expressions, feelings, aggression, anger management issues Sayembara misuh alias mengumpat sedang viral (Foto: Getty Images/iStockphoto/SIphotography)
Yogyakarta -

Sebuah komunitas bahasa bernama Jawa Sastra mengadakan Sayembara Misuh Internasional 2020. Dosen Fakultas Psikologi UGM, Prof Koentjoro, menilai misuh adalah media mengeluarkan uneg-uneg, dan misuh bukanlah budaya Jawa.

"Itu (misuh) bagian dari katarsis, katarsis itu adalah mengeluarkan uneg-uneg yang ada di dalam diri kita," katanya saat dihubungi detikcom, Jumat (10/7/2020).

Oleh karena itu, dia menilai sayembara itu bisa untuk media katarsis daripada sekadar ajang misuh, mengingat misuh atau mengumpat sendiri adalah hal yang bertentangan dengan norma.

"Tetapi misuh itu kan sesuatu yang tidak disukai dan bertentangan dengan norma. Makanya sekarang apakah masyarakat kita sudah keluar dari aturan kebajikan?" ucapnya.

"Jadi kalau hanya sekadar lomba untuk apa? Tapi kalau bentuk katarsis okelah," imbuh Koentjoro.

Apalagi, saat ini tradisi umpatan sudah bergeser. Hal yang sebelumnya tabu menjadi hal yang familiar di masyarakat. Namun, familiarnya hal tersebut membuat umpatan bukan lagi manjadi sebuah katarsis.

"Misuh ini juga menurut tradisi itu bergeser, dari dulu tabu lama-lama bisa diterima. Misalnya 'jancok', 'jancok' itu bagi orang zaman dulu udah misuh, tapi sekarang untuk orang Surabaya sudah jadi panggilan, cok, terus seperti gentho, 'piye kabare tho?' gitu," katanya.

Menyoal misuh sebagai identitas budaya Jawa, Koentjoro tidak begitu setuju. Mengingat orang Jawa sejatinya dicegah untuk misuh atau mengumpat, karena misuh akan menunjukkan kelas sosial seseorang.

"Orang Jawa itu kalau misuh, itu misuh dalam bahasa halus (krama inggil) dan dalam Jawa dicegah untuk tidak misuh. Karena luhuring budi bukan dari misuhnya, tapi luhuring budi itu gumantung seko lathi atau mulut," katanya

"Dan ketika mengumpat kelas sosialnya ketahuan, jadi siapa yang ngumpat itu orang Jawa bisa tahu kelas sosial mana," imbuh Koentjoro.



Simak Video "Keresahan Dokter Perihal Thermo Gun yang Ditembak di Tangan "
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)