Minggu, 12 Jul 2020 14:25 WIB

Gara-gara Pandemi Corona, Kasus Sindrom Patah Hati Meningkat

Firdaus Anwar - detikHealth
Sakit jantung Sindrom patah hati yang mempengaruhi jantung dilaporkan meningkat. (Foto: Shutterstock)
Jakarta -

Pandemi virus Corona COVID-19 disebut berkaitan dengan laporan peningkatan kasus sindrom patah hati. Menurut studi kecil yang dilakukan oleh para spesialis jantung di Ohio, Amerika Serikat, ini karena pandemi membuat orang-orang jadi lebih stres.

Sindrom patah hati sendiri adalah kondisi saat otot-otot jantung mengalami penurunan kemampuan memompa darah, disebut-sebut akibat respons stres emosi atau fisik yang ekstrem. Gejalanya mirip serangan jantung.

Kardiolog dr Ankur Kalra dari Cleveland Clinic mengatakan selama pandemi terjadi peningkatan kasus sindrom patah hati sampai lima kali lipat. Hal ini diketahui setelah ia dan timnya menganalisa data dari 258 pasien jantung selama 1 Maret sampai 30 April.

Hasilnya ditemukan bahwa sekitar 7,8 persen pasien mengalami sindrom patah hati. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan angka dari periode sebelum pandemi yaitu hanya sekitar 1,5 sampai 1,8 persen dari pasien jantung.

"Orang-orang saat ini tidak hanya khawatir ia atau keluarganya jatuh sakit, mereka juga harus berhadapan dengan masalah ekonomi, emosi, sosial, dan potensi kesepian serta isolasi," kata dr Kalra seperti dikutip dari Live Science, Minggu (12/7/2020).

Kalra dan timnya tidak menemukan perbedaan tingkat kematian pasien dalam studi. Sebagian besar yang mengalami kondisi sindrom patah hati ini bisa pulih, namun peneliti menekankan tetap ada kemungkinan seseorang bisa mengalami komplikasi yang fatal.

Studi ini telah dipublikasi di jurnal JAMA Network Open pada 9 Juli 2020.



Simak Video "Brasil Mulai Uji Coba Vaksin COVID-19 Inggris untuk 2 Ribu Partisipan"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)