Senin, 13 Jul 2020 13:46 WIB

3 Saran Epidemolog Agar Solo Tak Lagi di 'Zona Hitam' Corona

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Pemkot Solo melakukan Rapid test Corona. Rapid tes dilakukan di pasar Modern Luwes Gading dan Pasar Ayam Silir, Surakarta. Saran epidemolog agar Solo tidak lagi di zona 'hitam' Corona. (Foto: Agung Mardika)
Jakarta -

Usai Surabaya yang sempat disebut zona 'hitam' virus Corona, kini Solo juga disebut zona 'hitam' Corona. Hal ini disampaikan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Solo.

"Biasanya tambah 1-2 orang, hari ini tambah 18 orang. Sudah bukan zona merah lagi, zona hitam," kata Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Solo, Ahyani, Minggu (12/7/2020).

Meski begitu, zona 'hitam' Corona disebut tidak ada dalam pengkategorian wilayah. Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Dr dr Tri Yunis Miko Wahyono, MSc menegaskan kemungkinan 'zona hitam' yang dimaksud adalah zona merah.

"Istilah hitam nggak ada karena sebenarnya merah. Zona merah ini menggambarkan kasusnya banyak, transmisi virus Corona COVID-19 mengancam penduduk di situ," jelas Miko saat dihubungi detikcom Senin (13/7/2020).

Lalu bagaimana agar Solo tidak lagi dikategorikan zona 'hitam' atau zona merah Corona?

1. Pengunjung dan pengelola mal wajib pakai masker dan face shield

Miko menganjurkan zona 'hitam' atau zona merah Corona wajib menggunakan masker dan face shield saat di mal. Hal ini demi meminimalisir penularan virus Corona COVID-19.

"Baik pengunjung atau pengelola mal harus pakai face shield, bukan hanya pakai masker biar waspada bener-bener," kata Miko.

2. Restoran harus pakai tabir

Selain itu, Miko menjelaskan restoran-restoran yang berada di wilayah zona hitam atau zona merah Corona perlu menggunakan tabir. Menurut Miko, penularan Corona di restoran juga cukup tinggi.

"Di Thailand restoran-restoran, restoran kecil atau besar itu harus pakai tabir, kalau nggak ya bisa menular, karena pada waktu makan mau gak mau kan kalau pakai masker nggak bisa makan, akan buka masker ya droplet keluar," jelas Miko.

3. Perbaiki protokol di ojek online

Miko menilai penggunaan tabir di ojek online perlu diperbaiki. Karena menurutnya, selama ini tabir yang dipakai kurang tinggi dan kurang lebar.

"Kemudian ojek juga menurut saya tabirnya kurang tinggi harus ditinggiin lagi dan dilebarin lagi dikit jadi harus ada uji coba bukan hanya sekedar tabir, kalau di ojek online sih tabir-tabiran, kalau kurang tinggi ya akan tertular," pungkasnya.



Simak Video "WHO Sebut 3 Tempat yang Mudah Tularkan Virus Corona "
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)