Kamis, 23 Jul 2020 19:16 WIB

Disebut Idealnya Dibakar, Kurang Amankah Pemulasaraan Jenazah Corona?

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Sejumlah petugas medis mengangkat peti jenazah pasien positif COVID-19 saat simulasi pemakaman di Lhokseumawe, Aceh, Jumat (17/4/2020). Simulasi tersebut dilakukan untuk meningkatkan dan melatih kesiapan sarana dan tenaga medis yang sewaktu waktu dibutuhkan dalam membantu menangani pemakaman jenazah pasien positif COVID-19. ANTARA FOTO/Rahmad/pras. Simulasi pemakaman jenazah pasien Corona. (Foto: ANTARA FOTO/RAHMAD)
Jakarta -

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyebut, secara teori, penanganan jenazah pasien Corona yang paling baik adalah dibakar. Ini dimaksudkan agar virus yang berada di dalam jenazah bisa mati terbakar api.

"Yang terbaik, mohon maaf, saya muslim tapi ini teori yang terbaik dibakar, karena virusnya akan mati juga," kata Tito dalam webinar yang dipublikasikan Puspen Kemendagri seperti dikutip detikcom, Kamis (23/7/2020).

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, mengatakan protokol pemulasaraan jenazah pasien Corona yang diterapkan saat ini sudah cukup untuk meminimalisir penularan COVID-19. Sehingga jenazah tidak perlu dibakar.

"Menurut saya tidak perlu dibakar," kata Prof Ari kepada detikcom, Kamis (23/7/2020).

Terlebih sebelum dimakamkan, tubuh jenazah pasien Corona sudah dibungkus dan dimasukkan ke dalam kantong jenazah hingga rapat, sehingga tidak ada cairan yang tembus, yang dikhawatirkan dapat menulari orang lain.

Selain itu, Prof Ari juga meyakinkan bahwa jenazah pasien Corona yang sudah dimakamkan tidak akan berisiko menularkan lagi.

"Kalau sudah dikubur dalam perjalanan waktu virus akan mati," pungkasnya.



Simak Video "Deretan Negara yang Terapkan Kremasi untuk Jasad Pasien Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)