Senin, 27 Jul 2020 11:45 WIB

Epidemiolog UGM Pastikan Jenazah COVID-19 Tak Harus Dibakar

Sukma Indah Permana - detikHealth
India jadi negara ketiga dengan kasus COVID-19 terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat dan Brasil. Beberapa penanganan jenazah pun dilakukan dengan cara kremasi. Benarkah jenazah Corona paling ideal harus dibakar? (Foto ilustrasi: Getty Images/Yawar Nazir)
Jakarta -

Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Satria, S.Ked., MPH. menyampaikan bahwa jenazah pasien yang terjangkit virus Corona atau COVID-19 tak perlu dibakar. Bayu menjelaskan pedoman dari WHO dan badan kesehatan lainnya juga menyebutkan jenazah pasien COVID-19 tak perlu dibakar.

"Cukup dibungkus dengan baik sesuai protokol kesehatan dan dimakamkan sesuai protokol kesehatan maka sudah cukup sekali," ujar Bayu dalam keterangan tertulis yang dikirim oleh Humas UGM, Senin (27/7/2020).

"Saya rasa memang sebaiknya pejabat pemerintah harus berhati hati dalam mengeluarkan pernyataan. Karena sudah sering sekali terjadi komunikasi yang buruk dari pemerintah sehingga timbul keresahan," tuturnya.

Ia menerangkan virus yang sebelumnya terkontaminasi pada jenazah penderita COVID-19, maka saat dikuburkan akan musnah dengan sendirinya karena tidak ada sel inang yang dihinggapi.

"Virusnya akan mati jika lama tidak masuk ke inang yang baru," ujarnya.

Bayu juga bicara soal semakin banyaknya jumlah kasus positif COVID-19 dari hari ke hari. Menurutnya hal itu terjadi karena semakin banyaknya warga masyarakat yang melanggar protokol COVID-19, di samping semakin banyaknya tes massal COVID-19.

"Saya rasa banyak yang melanggar dan diiringi agak membaik kemampuan testing negara kita. Namun masih belum maksimal sehingga tetap ada kasus-kasus yang tidak terdeteksi," jelasnya.

Sedangkan soal uji coba vaksin COVID-19 dari China, Bayu belum mau berkomentar lebih banyak. Sebab menurutnya laporan pengembangan hasil uji vaksin fase 1 dan 2 di China belum dirilis hasilnya. Meski begitu, kata Bayu, ada harapan vaksin itu bisa digunakan karena strainnya dari COVID-19 di China yang mungkin akan mirip dengan yang ada di Indonesia.

"Untuk lebih pastinya makanya dilakukan uji fase 3 terutama di Indonesia dengan harapan bisa terlihat apakah ada efek samping, dan bagaimana hasil efikasi vaksinnya di Indonesia," katanya.



Simak Video "Virus Corona Bisa Serang Usus Meski Pernapasan Negatif Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)