Rabu, 29 Jul 2020 19:56 WIB

Updated

Pria Mengaku Setubuhi Anjing di Gowa, Termasuk Kelainan Beastiality?

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Tempat penampungan anjing di Kosta Rika Ilustrasi anjing. (Foto: (Juan Carlos Ulate/Reuters))
Jakarta -

Isi percakapan di media sosial tentang pengakuan seorang pria asal Gowa, Sulawesi Selatan, yang telah menyetubuhi anjing peliharaannya, viral di media sosial. Kabar ini disampaikan langsung oleh sang penerima chat bernama Zisrel yang berasal dari Medan.

Zisrel pun telah melaporkan pria tersebut ke Polda Sumatera Utara. "Maaf kata, dibilangnya 'ya khilaf, dulu pernah gue e*e (anjing). Dibilangnya gitu," ucapnya.

Singkat cerita, pria itu mengaku bahwa ia terobsesi terhadap anjing dari film. Bahkan, pria tersebut sempat mengirimkan beberapa video yang ditontonnya kepada zisrel.

Menanggapi hal ini, psikolog klinis dari Personal Growth Veronica Adesla mengatakan jika dilihat dari perilaku dan pengakuannya, bisa disebutkan kemungkinan pria tersebut mengalami gangguan perilaku seksual.

"Dari perilaku yang ditunjukkan kalau memang benar perilakunya adalah berhubungan seks dengan binatang, misalnya, anjing ya itu beastiality," kata Vero sapaan akrabnya, kepada detikcom pada Rabu (29/7/2020).

Terkait hal ini, detikcom pun merangkum beberapa fakta tentang gangguan seksual beastiality, sebagai berikut:

1. Bisa dipicu dari pengalaman masa kecil

Menurut Vero, salah satu faktor penyebab seseorang bisa mengalami gangguan seksual beastiality adalah karena adanya pengalaman negatif pada masa kecil atau anak-anak.

"Karena ada pengalaman negatif saat kecilnya dia, misalnya, ada kekerasan seksual yang dialami atau dia mengalami perilaku seksual tertentu," ucapnya.

2. Perilaku timbul saat pubertas

Vero mengatakan, munculnya perilaku beastiality bisa terjadi pada masa pubertas. "Karena pada masa pubertas hormon mulai terbentuk, mulai muncul adanya ketertarikan seksual," jelasnya.

Selain itu, menurutnya, tanda-tanda yang bisa dilihat adalah orang tersebut lebih cenderung menyukai menonton adegan seksual pada binatang.

"Ketertarikan seksualnya anomali. Artinya kan tidak sesuai normal. Bisa jadi sukanya nonton aktivitas seksual, tapi binatang dan itu membuat dia jadi tertarik," jelas Vero.

3. Pengidap masih bisa berhubungan seks dengan manusia

Vero menjelaskan, orang yang mengalami beastiality tak hanya tertarik pada binatang saja, tetapi juga masih tertarik melakukan seks dengan manusia.

"Bukan berarti kalau mereka beastiality itu mereka nggak melakukan dengan manusia dan benar-benar hanya dengan binatang saja itu belum tentu," ujar Vero.

4. Bisa diobati dan disembuhkan

Menurut Vero, orang yang mengalami beastiality masih bisa diobati dan disembuhkan. Salah satunya adalah dengan cara melakukan terapi psikologi, seperti melatih pola pikir, perilaku, dan perasaan orang tersebut.

"Terapi psikologi itu benar-benar kita membantu secara sadar, dia mengelola informasi, kita latih agar yang bersangkutan bisa berpikir secara lebih rasional," jelasnya.



Simak Video "Keresahan Dokter Perihal Thermo Gun yang Ditembak di Tangan "
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)