Kamis, 30 Jul 2020 10:04 WIB

Wawancara Eksklusif

Pandemi Corona dan Babak Baru Dunia Riset Indonesia

Yudha Maulana - detikHealth
RI-GHA COVID-19 merupakan alat rapid test yang dibuat oleh anak bangsa. Proses pembuatannya libatkan para peneliti dari berbagai universitas ternama Indonesia. Rapid test made in Indonesia (Foto: Rifkianto Nugroho)

Bagaimana agar produk dalam negeri tidak kalah bersaing dengan impor?

Kalau ada rapid test yang enggak mungkin kita lepas ke market, tidak disuruh bersaing dengan rapid test dari luar. Kenapa? Dalam ekonomi ada namanya economy of scale. Kalau kita baru produksi 100 ribu unit perbulan, sedangkan lawan kita sudah misalnya katakan 5 juta sebulan, lihat perbedaanya cost production, seharusnya kita melihat cost per-unit dibagi cost production, tahap awal kita enggak mungkin head to head, harus ada pemerintah yang komit pengadaan sekian. Kalau sudah jelas pelan-pelan industri akan menyesuaian sehingga cost of production akan bersaing dengan luar.

Korea Selatan maju karena inovasi, jadi bukan karena industri. Industri adalah dasarnya, tapi ditambah dengan inovasi. Kita tuh belum sampai ke sana, kita baru setop di industrinya saja, sehingga keberpihakan ke dalam negeri kurang, kita ingin seperti Korea, industri atau swasta berperan dalam riset dan pengembangan, karena mereka tahu apa kebutuhan masyarakat, mereka bicara ke peneliti apa kebutuhannya.

Kenapa harus ada kemandirian?

Pertama basicnya simpel ya, Indonesia itu negara besar 267 juta penduduk dengan luas wilayah yang tersebar itu semuanya ingin sehat, artinya untukk membuat 267 orang sehat itu kan butuh obat dan alkes, otomatis ya, pertanyaannya bagaimana kita bisa memastikan ketersediaan alat dan alkes, untuk begitu banyak penduduk di begitu banyak wilayah karena tersebar-sebar tadi.

Kalau kita mengandalkan impor yang terjadi seperti sekarang, yang bisa impor ya atau yang gampang mendistribusikan impor itu daerah yang gampang diakses, sehingga terjadi kesenjangan sekarang. Kesenjangan sekarang misal alkes kalau ke RS di Bandung, Jakarta semua alat yang kamu cari dapat, tapi begitu menjauh ke luar Jawa apalagi masuk ke daerah yang ada terisolasi kita mungkin hanya dapat puskemas dengan peralatan seadanya. Tapi kalau di Jawa, bahkan ada puskesmas yang over spec, bukan level puskesmas, tapi fasilitasnya rumah sakit. Enggak perlu mendatkan alat itu, kasihan saudara kita yang tidak mendapatkan.

Kemudian kedua, untuk obat kalau kita tidak investasi di bahan baku kimianya akan selamanya impor, nah kalau kita mulai investasi kimia bisa, dengan bikin turunan indsutri petro kimia, problemnya makan waktu, mahal dan drivernya siapa? Artinya siapa yang ingin mengembangkan bahan baku kimia di Indonesia, kita punya kekayaan biodiversity, bahan baku obat dari kita, tapi obatnya dari luar. Artinya teknologi mereka memungkinkan, kenapa kemandirian itu penting karena tadi, mengurusi 267 juta orang dengan berbagai pulau yang tersebar di banyak daerah yang terpencil, kita harus punya kemandirian karena impor tidak menyelesaikan masalah, bisa meledak sisi neraca perdagangan karena impor.

Halaman
1 2 Tampilkan Semua


Simak Video "CDC China: Peningkatan Kasus Corona Tak Hanya Gegara Mutasi Virus"
[Gambas:Video 20detik]

(up/up)