Selasa, 04 Agu 2020 08:25 WIB

Viral 'Dosen' Swinger, Pakar Seks Ungkap 4 Fakta Gangguan Fantasi Seksual

Elsa Himawan - detikHealth
Blindfolded woman with red lip on black background Fantasi seksual tidak selalu merupakan gangguan seksual (Foto: iStock)
Jakarta -

Punya fantasi seksual sebenarnya wajar-wajar saja, tak selalu berarti gangguan seksual. Tetapi ada kalanya memicu perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Seperti yang tengah viral belakangan ini, seorang pria mengaku dosen dan melakukan pelecehan seksual dengan kedok riset swinger. Pria ini mengaku dibayangi fantasi swinger dan selalu ingin memuaskan fantasinya tersebut.

Beberapa fakta tentang fantasi dan gangguan seksual bisa disimak sebagai berikut:

1. Fantasi seks tak selalu karena gangguan seksual

Fantasi seksual memiliki dua kategori: wajar dan penyimpangan (parafilia). Menurut dr Heru Oentoeng, M Repro, SpAnd, seorang seksolog di RS Siloam Kebon Jeruk, fantasi seksual dikatakan normal apabila hanya mempengaruhi perubahan suasana, posisi, dan sentuhan-sentuhan saja.

"Kalau cuma fantasi, misalkan istrinya disuruh memakai seragam, atau atribut lainnya untuk sekali-kali, itu hanyalah variasi dalam konteks rumah tangga," ujar dr Heru saat diwawancarai detikcom, Senin (3/8/2020).

2. Gangguan seksual punya pola tertentu

Pengidap gangguan seks memiliki pola tertentu untuk mendapatkan gairah seksual. Misalnya, dengan mencium celana dalam, menyiksa pasangan, adanya ketertarikan seksual dengan binatang, benda-benda tertentu, dan bahkan anak-anak. Oleh sebab itu, seseorang tidak bisa langsung dinilai mengidap gangguan seksual jika mereka tidak memiliki objek yang berpola sama untuk mendapatkan puncak kenikmatan.

3. Banyak faktor penyebab

dr Heru mengungkapkan bahwa cukup sulit untuk mengetahui penyebab asli dari gangguan seksual. Akan tetapi ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi seseorang mengidap gangguan seksual. Faktor yang paling dicurigai adalah psikologi dan pengalaman. Ketika seseorang pernah dilecehkan dan membekas dalam batinnya, kejadian itu bisa berubah menjadi kenikmatan tersendiri baginya.

Faktor lainnya bisa dikarenakan genetik. Namun, dr Heru mengatakan bahwa belum bisa dipastikan sepenuhnya bahwa genetik bisa mempengaruhi gangguan seksual seseorang. Ada juga faktor hormonal, tetapi tidak semua kasus bisa disebabkan oleh faktor ini.

4. Bisa disembuhkan

Seseorang yang mengalami gangguan seksual, sebaiknya segera berkonsultasi pada psikiater untuk diperiksa tingkat keparahannya. Jika ada gangguan aktivitas seksual tertentu yang menggebu-gebu, sehingga membuatnya out of control yang akhirnya merugikan banyak orang (memperkosa, dan lainnya), maka bisa diberikan obat psikologis. Bahkan, bisa juga dikebiri kimia. Upaya ini dilakukan untuk menekan faktor hormonal, sehingga menekan gairah seksual orang itu.



Simak Video "Keresahan Dokter Perihal Thermo Gun yang Ditembak di Tangan "
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)