Selasa, 04 Agu 2020 19:32 WIB

Antibodi Tuh Nggak Diminum! Begini Lho Cara Kerjanya di Dalam Tubuh

Elsa Himawan - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. Virus Corona COVID-19 (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Dalam sebuah wawancara dengan Anji, Hadi Pranoto diklaim sebagai 'penemu' antibodi COVID-19. Produk yang disebutnya sebagai antibodi tersebut digunakan dengan cara diminum.

Pemahaman seperti ini ternyata salah kaprah. Antibodi bukan sesuatu yang dimimun, melainkan dihasilkan oleh respons daya tahan tubuh ketika ada patogen atau benda asing yang masuk dan membahayakan tubuh.

Ketua Perhimpunan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) dr Inggrid Tania, M.Si menjelaskan, respons sistem imun terbagi menjadi dua yakni bawaan dan adaptif. Respons imun adaptif bekerja dengan menghasilkan antibodi, sedangkan respons bawaan menghasilkan peradangan atau inflamasi.

"Ketika patogen masuk ke dalam jaringan tubuh, akan memicu 'alarm' pada sel, sehingga terjadinya inflamasi (peradangan atau respon bawaan sel)," ujar dr Inggrid dalam sebuah diskusi online, Selasa (04/08/2020).

Ada banyak sel yang berperan dalam membentuk sistem imun. Salah satunya adalah sel dendrit yang berfungsi mengenali antigen pada patogen. Patogen bisa berupa mikroorganisme, seperti virus maupun bakteri.

"Antigen yang masuk ke dalam jaringan juga akan ditangkap oleh sel dendrit," jelas dr Inggrid.

Sel dendrit yang menangkap antigen dari patogen dapat mengenali molekul antigen tersebut. Akibatnya, sel dendrit teraktivasi dan akhirnya mengaktifkan nodus limfa.

Nodus limfa yang merupakan partikel berisi sel darah putih mengaktifkan limfosit atau sel darah putih, sehingga terbentuk antibodi secara spesifik. Limfosit akan membawa antibodi tersebut ke bagian yang terinfeksi lewat darah sebagai pengantar.



Simak Video "Tips Jaga Imunitas Tubuh Agar Tetap Kuat saat Pandemi"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)