Rabu, 05 Agu 2020 08:03 WIB

Diabetes Banyak Jadi Penyerta pada Pasien Corona, Begini Kaitannya

Elsa Himawan - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. Virus Corona COVID-19 (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Tirani Ika Pratiwi (35), pemilik akun Facebook Tea Ranich viral karena curhat soal almarhumah ibunya. Ia mempertanyakan sang ibu yang mengidap diabetes dilabeli COVID-19 saat meninggal di RSUD dr R Soedarsono, Kota Pasuruan. Dengan gigih, ia menolak tanda tangan terkait penanganan, pemulasaraan, hingga pemakaman ibunya sesuai dengan protokol COVID-19.

"org pintar dok to sy bisa baca hasil tes nya negatif tp knp harus sy menyetujui jika ibu sy covid hanya karena gejala panas dan sesak.tentunya semua orang sakit juga mengalami panas." ungkap Titani, pada akun Facebooknya.

Terlepas dari kasus tersebut, data menunjukkan bahwa diabetes adalah komorbid (penyerta) terbanyak kedua setelah hipertensi pada pasien Covid-19 dengan proporsi sebesar 50,5 persen. Kenapa bisa demikian?

Menurut dr Rudy Kurniawan, SpPD, pendiri komunitas peduli diabetes Sobat Diabet, banyaknya penyandang diabetes yang terpapar COVID-19 bisa disebabkan karena di Indonesia sendiri masih banyak pengidap diabetes yang tidak terkontrol.

Ia menjelaskan, secara umum penyandang diabetes memiliki sistem imun yang lebih lemah, terutama jika diabetesnya tidak terkontrol (total gula darah sewaktu >200, mg/dl atau gula darah puasa >130 mg/dl).

dr Rudy juga memaparkan bahwa sistem imun kita membutuhkan kondisi optimal untuk dapat bekerja dengan baik. Pada penyandang diabetes, kadar gula yang tinggi menyebabkan disfungsi (gangguan) imunitas. Selain itu, kadar stress oksidatif pada pasien diabetes cenderung lebih besar, sehingga dapat melemahkan sistem imun.

"Jangan lupa juga, penyandang diabetes yang sudah lama dengan beragam komorbid maupun komplikasi juga menambah risiko perburukan COVID-19," ujar dr Rudy saat dihubungi detikcom, Selasa (04/08/2020).

"Tapi kalau diabetesnya terkontrol dengan baik, maka sistem imunnya bisa baik juga," pungkasnya.



Simak Video "Penyandang Diabetes Tetap Aman Pergi ke RS saat Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)