Jumat, 07 Agu 2020 17:19 WIB

Uji Klinis Obat Herbal Corona Masuk Tahap Akhir, Target Selesai 15 Agustus

Ayunda Septiani - detikHealth
Vaksin virus corona: WHO peringatkan Rusia ikuti panduan internasional di tengah rencana imunisasi massal pada Oktober Ilustrasi penelitian. (Foto: BBC World)
Jakarta -

LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) bersama para ahli dari, Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan, dan tim dokter Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, melakukan penelitian kandidat obat imunomodulator suplemen herbal Indonesia untuk virus Corona.

Imunomodulator sendiri merupakan obat yang digunakan untuk memperbaiki atau meningkat sistem imunitas tubuh.

Studi ini menguji dua produk herbal asal Indonesia yakni, jamur cordyceps militaris dan kombinasi herbal yang terdiri dari rimpang jahe, meniran, sambiloto dan daun sembung. Kombinasi herbal ini pun sudah memiliki prototype dan data awal serta sudah memiliki izin edar dari BPOM.

Menurut Kepala Kelompok Penelitian Center for Drug Discovery dan Development, Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Masteria Yunovilsa Putra, mengatakan suplemen herbal yang dilakukan disebut sudah memasuki tahap akhir uji klinis. Tim peneliti telah merekrut subjek penelitian dari 90 partisipan.

"Kalau uji kliniknya memakai metode uji klinik imunomodulator dilakukan secara acak terkontrol tersamar ganda dengan plasebo untuk menjaga dari terjadinya bias pada penelitian. Terdapat 2 produk uji dan 1 plasebo yang diberikan secara acak dan merata kepada 90 subjek uji, sehingga terdapat 30 subjek uji untuk masing-masing kelompok," kata Masteria, saat dihubungi detikcom Jumat (7/82020).

Selain itu, Masteria mengatakan alasan kenapa suplemen tersebut menggunakan bahan-bahan yang herbal, karena bahan herbal tersebut sudah secara empiris digunakan turun-temurun oleh nenek moyang.

"Karena bahannya sudah dipakai secara turun temurun oleh nenek moyang kita, kemudian sudah terjamin keamanannya dan ada bukti saintifiknya," tambah Masteria.

Masteria juga menambahkan, suplemen ini akan ditargetkan selesai pada 15 Agustus mendatang, dan hasil akhir akan disubmit ke BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan).



Simak Video "Kemenkes: Lansia Perlu Hati-hati Gunakan Herbal untuk Atasi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)