Jumat, 07 Agu 2020 18:05 WIB

Hasil Rapid Test Diragukan, Bagaimana Jika Mau Bepergian?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Petugas kesehatan menegambil sample darah warga yang mengikuti rapid test di Depan Kejaksaan Agung, Jakarta, Kamis (6/7/2020). Kejaksaan Agung menggelar tes cepat massal. Tes diikuti para pengendara ataupun pejalan kaki yang melintas kawasan tersebut dalam upaya pencegahan covid-19. Hasil rapid test diragukan, bagaimana jika mau berpergian? (Foto ilustrasi: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Saat masa PSBB mulai dilonggarkan, pemerintah mulai memperbolehkan masyarakat bepergian meski dengan beberapa persyaratan. Salah satu syarat untuk melakukan perjalanan adalah dengan memiliki surat keterangan memiliki hasil pemeriksaan RT-PCR negative atau rapid test nonreaktif.

Pemeriksaan dengan tes cepat antibodi atau rapid test banyak ditentang oleh para ahli karena memiliki sensitivitas yang rendah untuk menentukan diagnosa COVID-19. Kemungkinan terjadi hasil negatif palsu ataupun positif palsu dari rapid test cenderung tinggi sehingga dampaknya bisa berbahaya dan merugikan.

"Terkait dengan orang-orang yang bepergian domestik apalagi tes PCR-nya agak lama artinya memang kita harus pastikan bepergiannya terbatas, harus memiliki alasan yang sangat kuat kenapa harus bepergian," kata pakar biologi molekuler Ahmad Utomo dalam webinar Society of Indonesian Science Journalist dan ditulis Jumat (7/8/2020).

"Karena ya kalau dengan rapid test itu memberikan false sense of security jadi justru bisa jadi masalah baru," sambungnya.

Ahmad meminta agar masyarakat menunda melakukan perjalanan jika tidak mendesak. Terlebih di masa pandemi COVID-19 masih ada banyak kemungkinan untuk tertular baik di pesawat atau tempat tujuan akhir.

Beberapa waktu lalu, Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik juga menegaskan bahwa pemeriksaan PCR atau rapid test yang negatif tidak bisa menjamin seseorang bebas dari paparan SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19. Baik rapid test atau PCR tidak bisa dijadikan persyaratan layak melakukan perjalanan orang selama pandemi Corona, terlebih jika masa berlakunya 14 hari pada saat keberangkatan.

Untuk meminimalisir terjadinya penularan dan lonjakan kasus saat bepergian, PDS PatKlin, dalam rilisnya, menyarankan untuk melakukan pemeriksaan TCM (tes cepat molekuler) atau pemeriksaan antigen virus Corona dnegan sampel swab atau saliva di stasiun atau bandara sesaat sebelum seseorang melakukan perjalanan yang tentunya dibarengi dengan penerapan protokol kesehatan.

"Penerapan protokol kesehatan secara ketat dan benar (pakai masker dan face shield, jaga jarak, cuci tangan) selama dalam perjalanan," tulis keterangan tersebut.



Simak Video "Kabar Baik! Ridwan Kamil: Kit Rapid Test Buatan Jabar Capai Akurasi 80%"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/naf)