Minggu, 09 Agu 2020 11:39 WIB

Perkembangan 5 Jenis Obat yang Diteliti untuk Hadapi Pandemi COVID-19

Firdaus Anwar - detikHealth
Peneliti di Inggris menyatakan ujicoba pengobatan COVID-19 menggunakan dexamethasone menunjukkan keberhasilan dalam menyelamatkan nyawa pasien. Dexamethasone disebut bermanfaat untuk pasien Corona bergejala parah. (Foto: Getty Images/Matthew Horwood)
Jakarta -

Apakah obat Corona sudah ditemukan? Pertanyaan tersebut mungkin kerap muncul di benak sebagian orang di masa pandemi ini. Sayangnya hingga saat ini masih belum ada obat yang dianggap memenuhi syarat sehingga bisa dijadikan terapi standar COVID-19.

Namun, laporan di berbagai penjuru dunia melihat setidaknya sudah ada beberapa kandidat obat potensial. Berikut 5 jenis obat yang pernah dan masih diteliti untuk COVID-19, seperti dikutip dari Mayo Clinic:

1. Obat antivirus

Berbagai jenis obat antivirus diteliti efeknya dalam menghadapi virus SARS-COV-2 penyebab COVID-19. Obat jenis ini bekerja dengan cara menekan kemampuan replikasi atau perkembangan virus di dalam tubuh.

Contoh obat antivirus yang diteliti untuk COVID-19 ada lopinavir, ritonavir, favipiravir, dan remdesivir. Beberapa ahli melihat remdesivir sebagai kandidat obat antivirus yang paling potensial.

2. Dexamethasone

Dexamethasone adalah jenis obat antiradang yang bekerja dengan cara menekan sistem imun. Beberapa pasien Corona mereka mengalami komplikasi karena reaksi imun yang berlebihan, sehingga pemberian obat ini disebut-sebut bisa mengurangi tingkat kematian pada pasien dengan gejala parah.

Hanya saja peneliti memberi peringatan bahwa obat ini bisa berbahaya jika diresepkan terlalu dini. Alasannya karena sistem imun yang bekerja baik-baik melawan penyakit malah dapat terganggu.

3. Terapi imun

Peneliti juga mempelajari terapi imun dengan memanfaatkan plasma darah pasien yang sudah sembuh dari COVID-19. Dasar dari terapi ini adalah diharapkan kekebalan tubuh terhadap COVID-19 yang sudah dibentuk oleh pasien sembuh dapat digunakan untuk membantu pasien sakit.

4. Klorokuin dan hidroksiklorokuin

Klorokuin dan hidroksiklorokuin merupakan obat yang biasa dipakai untuk menyembuhkan pasien malaria. Obat ini awalnya diteliti oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan diberi izin penggunaannya oleh Food and Drug Administration (FDA), namun belakangan dihentikan karena dianggap minim manfaat.

Sementara Indonesia dilaporkan masih menggunakan dua jenis obat ini karena disebut para pakar bisa membantu proses penyembuhan pasien.

5. Obat yang masih belum jelas efektivitasnya

Beberapa obat seperti amlodipine, ivermectin, losartan, dan famotidine juga diteliti, tapi khasiatnya masih belum terlalu jelas. Peneliti juga berusaha menemukan apakah ada obat yang bisa digunakan untuk mencegah infeksi COVID-19.



Simak Video "Penyandang Diabetes Tetap Aman Pergi ke RS saat Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)