Kamis, 13 Agu 2020 10:32 WIB

Studi Baru: Pengguna Vape Usia Muda 5 Kali Lebih Berisiko Terinfeksi Corona

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
ilustrasi vape Pengguna vape usia muda lima kali lebih berisiko terinfeksi Corona. (Foto: iStock)
Jakarta -

Studi baru menemukan pengguna vape usia muda memiliki risiko tinggi terinfeksi virus Corona COVID-19. Ditemukan banyak bukti adanya efek berbahaya dari vaping.

Dikutip dari USA Today, penelitian yang dipimpin oleh para peneliti di Stanford University School of Medicine ini menemukan pengguna vape lima kali lebih berisiko terinfeksi daripada yang tidak menggunakan vape. Studi yang dimuat pada hari Selasa di Journal of Adolescent Health, juga menemukan pengguna vape yang juga merokok biasa tujuh kali lebih berisiko terinfeksi virus Corona.

"Orang muda mungkin percaya usia mereka melindungi mereka dari tertular virus atau bahwa mereka tidak akan mengalami gejala COVID-19, tetapi data menunjukkan bahwa ini tidak benar di antara mereka yang melakukan vape," kata penulis utama studi tersebut, Shivani Mathur Gaiha.

Peneliti Stanford melakukan survei pada lebih dari 4.300 peserta berusia antara 13 hingga 24 tahun yang tinggal di seluruh negeri, termasuk District of Columbia dan tiga wilayah Amerika Serikat.

Hasil studi juga disesuaikan untuk sejumlah faktor termasuk usia, jenis kelamin, ras, etnis, pendidikan, indeks massa tubuh, kepatuhan terhadap perintah atau imbauan negara untuk pencegahan virus Corona COVID-19.

Survei tersebut menanyakan apakah mereka pernah menggunakan vape atau merokok dalam 30 hari terakhir. Mereka kemudian ditanya apakah pernah mengalami gejala COVID-19, dites, atau sudah mendapat diagnosis positif setelah dites.

Ditemukan bahwa usia muda yang merokok dan menggunakan vape pada bulan sebelumnya hampir lima kali lebih mungkin mengalami gejala COVID-19 seperti batuk, demam, kelelahan, dan kesulitan bernapas, yang diakui oleh penelitian tersebut dapat menjelaskan mengapa mereka juga lebih terinfeksi Corona.

Dr Sunil Sharma, kepala paru-paru, perawatan kritis, di West Virginia University Medicine, mengatakan bahwa sementara lebih banyak pengujian pada populasi ini dapat berkontribusi pada peningkatan diagnosis positif, hasil studi tersebut konsisten dengan literatur yang diterbitkan sebelumnya tentang kaitan vaping dan kekebalan menurun.

"Setidaknya secara hipotetis, ini sejalan dengan apa yang telah kita pelajari tentang rokok elektrik," katanya.

"Ini memang membahayakan paru-paru dan, dalam beberapa hal, (merusak) paru-paru diterjemahkan menjadi berkurangnya kekebalan terhadap infeksi dan itu pasti bisa berarti lebih banyak kecenderungan untuk COVID-19," lanjutnya.

Dr Bonnie Halpern-Felsher, penulis senior studi dan profesor pediatri di Fakultas Kedokteran Universitas Stanford, berspekulasi bahwa bukan hanya sistem kekebalan yang terganggu yang membuat usia muda rentan terhadap COVID-19. Dia mengatakan usia muda cenderung berbagi vape mereka dan dapat berisiko menyebarkan virus Corona.

"Beberapa teman berbagi perangkat vaping mereka," katanya.

"Jangan menyentuh wajah Anda. Vapers dapat menularkan virus dari tangan ke wajah setiap kali membawa perangkat ke mulut. Dan menghirup menawarkan jalur langsung bagi virus untuk memasuki saluran pernapasan," bebernya.

Rokok elektrik juga disebut menghasilkan aerosol, yang mungkin mengandung mikrodroplet virus yang terbawa lebih dari 2 meter jauhnya.



Simak Video "Cara Mudah Bantu 'Memulihkan' Dunia dari Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)