Sabtu, 15 Agu 2020 20:00 WIB

Nyeri Pinggang Sering Disepelekan, Hati-hati Gejala Awal Penyakit Autoimun

Siti Fatimah - detikHealth
ilustrasi nyeri pinggang Nyeri pinggang bisa jadi tanda penyakit autoimun. (Foto: ilustrasi/thinkstock)
Bandung -

Sakit pinggang biasanya disepelekan oleh penderita dan mengira akan sembuh dengan sendirinya. Padahal, sakit pinggang bisa jadi gejala awal penyakit autoimun ankylosing spondylitis (AS).

Ankylosing Spondylitis merupakan gangguan imun atau penyakit autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sel dan jaringan yang sehat sehingga menyebabkan peradangan (artritis) pada sendi tulang belakang.

Laniyati Hamijoyo selaku dokter ahli penyakit dalam bagian penyakit rematik dan autoimun mengungkapkan, berdasarkan penelitian 70 persen populasi dunia yang pernah mengeluhkan nyeri pinggang pada bagian bawah tidak menyadari bahwa ini gejala awal dari penyakit AS. Diketahui kondisi ini memiliki prevalensi 0,2 persen di Asia Tenggara.

"Penyakit ini dapat membuat ruas tulang belakang menyatu, sehingga penderita sulit bergerak, menjadi bungkuk dan mengalami kesulitan bernapas," ujar Lani dalam webinar Novartis dan Phase Academia Klinik, Sabtu (15/8/2020).

AS merupakan salah satu penyakit rematik inflamasi (inflammatory rheumatic) yang terkait dengan gen HLA-B27, yaitu gen kuat yang meningkatkan risiko beberapa penyakit rematik.

Lani mengatakan, seseorang yang mengeluhkan sakit pinggang tanpa disebabkan oleh pekerjaan, aktivitas, atau cedera tertentu jadi diagnosa awal nyeri pinggang autoimun. Cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya gen HLA-B27 adalah dengan pemeriksaan darah di laboratorium.

"Kebanyakan pasien AS tidak menyadari bahwa mereka memiliki penyakit tersebut. Biasanya mereka baru mengetahui dan memeriksakan diri setelah rasa sakit yang semakin menjadi, seperti rasa sakit yang terus menerus hingga gangguan fungsi gerak tubuh," jelas Lani.

"Hal ini biasanya terjadi beberapa tahun setelah pasien merasakan gejala awal. Deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat berperan penting dalam memperbaiki gejala (terutama rasa nyeri), fungsi gerak dan kualitas hidup pasien," tambahnya.

Selain terjadi pada pinggang, pasien dengan AS biasanya juga mengalami gejala seperti peradangan (rasa sakit, dan kekakuan) di bagian bahu, pinggul, atau tumit. Kadang disertai pula dengan kondisi mudah lelah dan kehilangan energi untuk beraktivitas.

Pria memiliki peluang lebih tinggi menderita AS dibandingkan wanita, umumnya gejalanya mulai timbul pada usia 15-45 tahun.

Lani memaparkan ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk penderita AS.

"Antara lain melalui obat-obatan, terapi fisik, dan pembedahan. Terapi fisik merupakan kegiatan yang lebih umum diikuti oleh pasien AS karena bertujuan untuk memperbaiki kelainan pada postur tubuh, mencegah kecacatan, meningkatkan kemampuan pasien untuk kembali beraktivitas secara normal, juga mengurangi serta menekan rasa sakit dan peradangan," pungkasnya



Simak Video "Lebih Dekat dengan Komunitas Autoimun Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)