Selasa, 18 Agu 2020 05:31 WIB

Round Up

Klaim Temuan Obat COVID-19 Unair yang Panen Kritik

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. Virus Corona COVID-19 (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Universitas Airlangga (Unair) berhasil menyelesaikan tahapan uji klinis 3 kombinasi obat untuk mengatasi virus Corona. Diklaim bakal menjadi obat pertama di dunia untuk COVID-19.

"Tentu karena ini akan menjadi obat baru, maka diharapkan ini akan menjadi obat COVID-19 pertama di dunia," ujar Rektor Unair, Prof Nasih dalam rilis yang diterima detikcom dari Humas Unair.

Didukung Badan Intelijen Negara (BIN) dan TNI-AD, riset ini meneliti 3 kombinasi obat sebagai berikut:

  • Kombinasi pertama, Lopinavir/Ritonavir dan Azithromycin
  • Kombinasi kedua, Lopinavir/Ritonavir dan Doxycyclin
  • Kombinasi ketiga, Hydrochloroquine dan Azithromycin.

Klaim 'temuan' obat COVID-19 pertama di dunia tersebut mendapat sejumlah kritik. Salah satunya disampaikan praktisi kesehatan sekaligus akademisi Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD. Menurutnya, sebuah riset obat tidak selesai hanya dengan uji klinis.

"Jadi kalau suatu uji klinis baru selesai, uji coba berikutnya tentu ketika coba disubmit ke kongres dunia dan selanjutnya dipublikasi di jurnal internasional," kata dr Ari.

Publikasi di jurnal internasional, menurut dr Ari diperlukan untuk mendapat pengakuan bahwa uji klinis tersebut memang valid dan bisa masuk guideline maupun protokol pengobatan baru. Lewat publikasi tersebut, akan dinilai juga apakah hasilnya konsisten dengan penelitian lain di berbagai negara.

Minimnya publikasi juga disorot praktisi biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, PhD. Menurutnya, efektivitas dan keamanan kombinasi obat tersebut sulit dinilai jika data yang tersedia tidak cukup detail.

"Kalau saya sebagai pihak otoritas saya nggak berani mengatakan sudah ditemukan karena datanya terlalu sederhana. Jadi lebih baik sekarang kita tunggu dari BPOM," kata Ahmad.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito ketika dihubungi hanya menjawab singkat. "Akan ada penjelasan dari Badan POM," kata Penny saat dihubungi detikcom, Minggu (16/8/2020).



Simak Video "Mengenal Remdesivir, Obat Corona yang Disetujui BPOM RI "
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)