Selasa, 15 Sep 2020 10:10 WIB

Benarkah Ospek 'Keras' Bantu Membentuk Mental Maba? Ini Kata Psikolog

Firdaus Anwar - detikHealth
Divers group of high school of college graduates smiling during the graduation ceremony. They are standing in a row. (Foto ilustrasi: iStock)
Jakarta -

Di media sosial viral cuplikan video ospek masiswa baru (maba) di bentak-bentak saat ospek virtual. Sebagian netizen menyebut kebiasaan ospek yang 'keras' seperti ini sudah biasa dilakukan untuk membentuk mental yang lebih kuat dan disiplin.

"Tetap perlu sih, menurut gue melatih mental dan latihan berpikir sama nyelesaiin masalah saat menghadapi tekanan. Selama ospeknya batas wajar dan beresensi ya kenapa enggak. Tapi kalau udah pakai kekerasan atau emang sengaja senioritas ya baru deh diudahin aja," komentar satu pengguna Twitter.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Dra Ratna Djuwita, Dipl. Psych, mengatakan ospek yang menerapkan kekerasan verbal tidak bisa membantu membentuk disiplin maba. Budaya ospek seperti ini malah bisa menimbulkan perpecahan dan menjadi siklus karena ada rasa dendam.

"Nanti mereka (maba -red) ketika status sosialnya naik, jadi kakak tingkat, membalas itu karena diperlakukan seperti itu dengan rasionalisasi akan membuat tegar, kreatif, kompak," kata Ratna pada detikcom, Selasa (15/9/2020).

"Di dunia pendidikan luar negeri hal seperti ini enggak ada tapi mereka bisa tetap berprestasi," lanjutnya.

Ratna mengatakan ospek atau program orientasi seharusnya membantu maba mengenali kehidupan kampus. Para senior seharusnya bisa mengajarkan hal-hal yang akan dibutuhkan kelah seperti misalnya bagaimana berpikir kritis atau mencari informasi di perpustakaan.

"Kalaupun mau bikin games yang aneh-aneh, diharapkan justru respons yang memancing kreatifitas dan harusnya fun gitu. Belajar karena fun itu jauh lebih efektif daripada belajar karena takut," pungkas Ratna.



Simak Video "Keresahan Dokter Perihal Thermo Gun yang Ditembak di Tangan "
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)