Kamis, 17 Sep 2020 18:55 WIB

GTPP COVID-19 Cirebon Kembangkan Terapi Plasma untuk Pasien COVID-19

Sudirman Wamad - detikHealth
ERLANGEN, GERMANY - APRIL 27: A recovered Covid-19 patient donates blood plasma for research into Covid-19 antibodies at the medical researcher of the German Center for Immunity Therapy (das Deutsche Zentrum Immuntherapie, or DZI) at the University Hospital Erlangen during the novel coronavirus crisis on April 27, 2020 in Erlangen, Germany. The DZI is among several research facilities across Germany conducting research and tests over whether blood plasma that contains the antibodies from recovered Covid-19 patients might provide a therapy for other Covid-19 patients still battling with the disease. Germany currently has over 150,000 confirmed cases of Covid-19 infection, 103,000 people have recovered and approximately 6,000 people have died. (Photo by Alexander Hassenstein/Getty Images) Virus Corona COVID-19 (Foto: Getty Images/Alexander Hassenstein)
Cirebon -

Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) COVID-19 Kabupaten Cirebon tengah mengembangkan terapi plasma bagi pasien terkonfirmasi positif. Terapi plasma itu dilakukan untuk mendorong percepatan proses penyembuhan penderita COVID-19.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon Enny Suhaeni mengatakan pengembangan terapi plasma karena pasokan obat untuk terapi imun mulai langka. Enny mengaku RSUD Waled, rumah sakit rujukan COVID-19 kesulitan mendapatkan obat untuk terapi imun.

Enny mengaku pihaknya bekerja sama dengan RSPAD Gatot Soebroto dan RSPI Sulianti Saroso untuk mengembangkan terapi plasma. "Sekarang sudah ada dua pasien yang menjalani terapi plasma. Untuk plasma ini kita dapatkan dari RSPAD Gatot Soebroto," kata Enny dalam siaran persnya, Kamis (17/9/2020).

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Cirebon Ahmad Fariz Malvi Z mengatakan dua pasien yang menjalani terapi plasma di RSUD Waled kondisinya cukup membaik. Kendati demikian, ketua IDI yang juga menjabat sebagai tim dokter di RSUD Waled itu menyebutkan terapi plasma bisa dilakukan kepada pasien yang masuk dalam kategori sedang dan berat.

"Kondisinya membaik, tetap kita lama rawatnya pasien tersebut. Sebenarnya Pemkab Cirebon sudah memiliki alat dan SDM yang bisa membuat plasma di PMI Cirebon. Ya rencananya kita memproduksi plasma sendiri," katanya.

Fariz mengatakan dalam waktu dekat pihaknya akan mendata sejumlah pasien yang berhasil sembuh dari COVID-19 untuk mendonorkan plasmanya. Menurut Fariz, terapi plasma dapat memberikan antibodi atau imunitas melalui plasma yang didonorkan.

"Seorang pendonor bisa menghasilkan 200 sentimeter kubik (cc) darah. Sementara, dosis yang dibutuhkan pasien positif COVID-19 yang menjalani perawatan itu 400 cc darah. Jadi, satu pasien positif COVID-19 yang dirawat membutuhkan dua pendonor plasma," kata Fariz.

Fariz mengatakan untuk syarat pendonor plasma adalah pasien sembuh dari COVID-19 yang tidak lebih dari tiga minggu. Fariz menyebutkan pasien kritis bisa sembuh dengan terapi plasma dalam waktu tujuh hari.

"Ini dapat menurunkan tingkat kematian akibat COVID-19 sebesar 60 persen. Terapi ini mampu menghilangkan virus 11 kali dibandingkan pasien yang tidak menjalani terapi plasma," kata Fariz.



Simak Video "PMI Solo Siapkan Terapi Plasma Konvalesen bagi Pasien Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)