Sabtu, 19 Sep 2020 20:38 WIB

Bos Sido Muncul Usul ke Pemerintah Teliti Potensi Obat Herbal

Reyhan Diandri Ghivarianto - detikHealth
ok Foto: Sido Muncul
Jakarta -

Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat mengajak para peneliti untuk berani melakukan hal-hal baru, untuk berperan aktif meneliti tanaman asli Indonesia. Menurutnya hal tersebut penting agar potensi obat herbal bisa dikembangkan lebih lanjut.

"Jika ingin berhasil memanfaatkan tanaman obat, maka kita harus berani melakukan hal-hal baru, tapi tidak melanggar peraturan, etika profesi, dan moral," ungkap Irwan Hidayat, dalam keterangannya, Sabtu (19/8/2020).

Hal itu ia ungkapkan dalam acara webinar bertajuk 'Strategi Pengembangan dan Pemanfaatan Herbal Menuju Indonesia Sehat'.

Irwan mengatakan pihaknya sudah mengusulkan kepada pemerintah untuk dilakukan penelitian terhadap tanaman-tanaman asli Indonesia yang bisa digunakan sebagai tanaman obat. "Saat ini hanya sekitar 350 jenis yang boleh dimanfaatkan. Padahal jenis tanaman dan biota laut Indonesia mencapai lebih dari 28.000 spesies," ungkapnya.

Irwan membandingkan Indonesia dengan China yang memiliki ribuan spesies. Menurutnya harus ada saran dan masukkan kepada pemerintah agar industri obat herbal bisa lebih berkembang.

Sebagai pengusaha yang bergerak di bidang obat herbal, ia mengatakan sudah melakukan beragam hal untuk ikut mendorong tercapainya hal tersebut tanpa melanggar peraturan seperti uji toksisitas.

"Tahun 2002, Sido Muncul melakukan Uji Toksisitas pada Tolak Angin. Padahal uji toksisitas ini juga tidak ada keharusan dari BPOM. Sampai hari ini, Sido Muncul adalah perusahaan pertama yang melakukan uji toksisitas ini. Kami juga terus menguji dan membuktikan produk-produk lainnya agar aman untuk dikonsumsi," jelasnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM Maya Gustina Andarini mengatakan potensi obat herbal seperti jamu sudah ada dan dimanfaatkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Menurutnya, jamu atau tanaman obat bisa digunakan dengan aman oleh masyarakat selama ada bukti empiris yang menyatakan khasiatnya.

"Asam temulawak maupun ramuan pegel linu itu sudah ada dari dulu, itu ada di prasasti-prasasti serta ada di kitab-kitab lama. Itu (khasiat jamu) sudah terbukti secara turun temurun digunakan oleh nenek moyang kita, artinya tidak ada efek samping yang serius. Jadi tidak perlu ada pembuktian secara ilmiah untuk diberikan izin edar dan klaimnya karena sudah ada riwayat empiris," ujarnya.

Namun, Maya Gustina menambahkan agar potensi obat herbal seperti jamu bisa lebih dikembangkan, maka bisa juga dilakukan pembuktian secara ilmiah. "Jamu bisa menjadi Fitofarmaka (obat dari bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya) gak masalah karena dia ingin membuktikan secara ilmiah bukan turun temurun. Misalkan suatu perusahaan supaya bisa masuk ke negara asing, negaranya itu butuh bukti ilmiah bukan bukti empiris," imbuhnya

Adapun Maya Gustina mengatakan pembuktian secara ilmiah tersebut dilakukan dengan cara uji klinis. "Jadi dibuktikannya dengan cara uji klinis walaupun sebetulnya jamu. Tapi mungkin ada hal-hal yang tidak empiris. Contoh misalnya nanas yang kita makan kan buahnya, lalu ada suatu penemuan baru yang mungkin akarnya misalnya ternyata berkhasiat tapi itu bukan empiris. Jadi dilakukanlah penelitian dan penelitian itu harus dibuktikan dengan uji klinis karena tidak ada riwayat empiris," pungkasnya.

(prf/ega)