Kamis, 24 Sep 2020 13:15 WIB

Tertinggi di Asia, Sejak Kapan India Mengalami Lonjakan Kasus COVID-19?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Otoritas India melaporkan lebih dari 1.100 kematian akibat virus Corona (COVID-19) dalam sehari di wilayahnya. Kasus Corona tertinggi di Asia, sejak kapan lonjakan kasus Corona terjadi di India? (Foto ilustrasi: AP Photo)
Jakarta -

India pertama kali mengalami lonjakan kasus virus Corona COVID-19 pada akhir Juli lalu. Kala itu penambahan kasus Corona di India tercatat ada 50 ribu kasus per harinya. Kini, India menjadi negara dengan jumlah kasus tertinggi di Asia, dan urutan kedua di dunia.

Reuters melaporkan India mencatatkan hampir 1,6 juta kasus COVID-19 pada akhir Juli. Saat itu, Indonesia baru saja mencatat rekor penambahan kasus sejak awal wabah merebak pada Rabu (23/9/2020) dengan total 4.465 kasus.

Jika Corona di Indonesia dibandingkan dengan India yang sama-sama memiliki jumlah populasi cukup padat, berikut gambaran terkait penanganan pandemi Corona di beberapa hal.

Beda jumlah testing Corona di Indonesia dan India

- India sempat melakukan testing lebih dari 1 juta perhari

Dikutip dari Al Jazeera, Kementerian Kesehatan India mengatakan lonjakan kasus dikarenakan peningkatan kasus pengujian harian di India telah lebih dari satu juta. Bahkan, India mencatat 1,2 juta testing per 19 September 2020.

Sementara itu total testing yang dilakukan India hingga saat ini mencapai 67.436.031, demikian laporan worldometers.

- Testing di Indonesia paling tinggi 40-an ribu perhari

Jika dibandingkan dengan India, testing di Indonesia kalah jauh. Pemeriksaan pada 15 September 2020 sebanyak 42.636 spesimen menjadi rekor tertinggi sejauh ini.

Sementara per Rabu (24/9/2020) total spesimen yang tercatat sebanyak 3.032.250. Presiden Joko Widodo sebelumnya menargetkan jumlah testing yang bisa dilakukan per hari sebanyak 30 ribu.

Layanan kesehatan India dan Indonesia

Kualitas kesehatan di India cukup buruk, termasuk fasilitas rumah sakit dan protokol COVID-19 yang dijalankan. Seperti yang diceritakan Mohinder Kaur, pasien positif COVID-19 di India.

"Tidak ada yang mendekati kami atau bahkan membantu kami. Jika ada yang secara tidak sengaja menyentuh kami, staf akan berteriak kepada mereka karena merusak perlengkapan APD (alat pelindung diri)," ujar dia sepeti dikutip dari Al Jazeera.

Sementara kapasitas rumah sakit di DKI Jakarta, Indonesia, khususnya tempat tidur sempat terancam kolaps. Hal ini disampaikan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang kemudian kembali memperketat PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Menurut data per 6 September 2020, tempat tidur di ICU 67 rumah sakit (RS) rujukan COVID-19 sudah 83 persen terisi penuh. Sementara itu tempat tidur ruang isolasi sudah 77 persen terisi penuh.

Anies memprediksi 4.052 tempat tidur isolasi di DKI Jakarta pada akhirnya akan penuh 100 persen pada tanggal 17 September bila tidak segera dilakukan intervensi.

"Situasi wabah di Jakarta ada dalam kondisi darurat," kata Anies lewat konferensi pers yang disiarkan kanal Youtube Pemprov DKI Jakarta, Rabu (9/9/2020).

Gelombang virus Corona

Ahli epidemiologi dan mantan profesor di Christian Medical College, Vellore, Dr T Jacob John mengatakan di minggu terakhir Agustus, epidemi India mencapai seluruh pelosok, terbukti dengan adanya penularan virus di antara masyarakat suku.

"Artinya, secara spasial epidemi sudah memuncak," ujarnya.

John menyebut Corona di India sudah memasuki tahap empat dan penularannya sangat luas. Kondisi ini merujuk pada catatan harian dalam beberapa minggu terakhir. Namun, India membantah hal tersebut.

Sementara Indonesia disebut masih belum usai menghadapi gelombang pertama Corona. Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indo Barometer M Qodari menyebut kasus Corona (COVID-19) di Indonesia belum mencapai puncak sejak kemunculan kasus pertama di Indonesia pada Maret 2020. Sejauh ini, Indonesia masih merangkak menuju puncak.

"Pertama, jumlah kasus kita terus naik ya, keliatan polanya kemudian kasus semua wilayah misalnya dengan situasi walaupun tiap daerah punya variasi Indonesia dan di mana? Ini pertanyaannya ya. Kita ini kalau ada istilah gelombang pertama, gelombang kedua dan ketiga kelihatannya gelombang pertama pun belum begitu. Bicara soal Pilkada ya Pilkada bulan Desember ini diputuskan pada bulan April dalam rapat bulan April dengan asumsi bahwa pada bulan Juli atau Agustus ini kita sudah pada posisi ini," kata Qodari pada Minggu (19/9/2020).



Simak Video "Corona Diprediksi Bisa Tingkatkan Kasus Kanker"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)