Kamis, 24 Sep 2020 18:00 WIB

Banjir Bandang di Sukabumi, Ini 6 Penyakit Akibat Banjir

Lusiana Mustinda - detikHealth
Banjir bandang menerjang wilayah Kecataman Cicurug, Kabupaten Sukabumi, ratusan rumah terendam beberapa diantaranya mengalami kerusakan. Tiga orang hanyut dan dua di antaranya ditemukan dengan kondisi tidak bernyawa. Banjir bandang di Sukabumi. Foto: Syahdan Alamsyah
Jakarta -

Banjir bandang yang menerjang Cicurug, Sukabumi merendam ratusan rumah. Warga yang rumahnya terendam terpaksa harus mengungsi ke penampungan sementara. Pemerintah daerah setempat pun menetapkan status tanggap darurat pasca banjir bandang selama tujuh hari.

Saat bencana banjir menerjang suatu wilayah sering kali akan muncul beberapa penyakit yang diakibatkan karena banjir.

Mereka yang terkena dampak banjir berisiko terinfeksi penyakit yang ditularkan melalui air melalui kontak langsung dengan air yang tercemar. Banjir juga menjadi tempat perkembangbiakan utama nyamuk, yang juga menularkan banyak penyakit yang ditularkan saat banjir terjadi.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), ada beberapa penyakit atau gangguan kesehatan yang muncul selama dan pasca banjir:

1. Demam Tifoid

Demam tifoid disebabkan oleh bakteri yang disebut dengan Salmonella typhi yang terdapat dalam air minum dan makanan yang terkontaminasi. Penyakit ini tertular melalui kontak langsung dengan air yang tercemar. Gejala penyakit ini adalah sakit kepala, hilang nafsu makan, demam tinggi dan diare.

2. Kolera

Kolera mirip dengan demam tifoid, penyakit ini disebabkan oleh bakteri bernama Vibrio cholerae yang menyebar di air minum dan makanan. Lalat yang terinfeksi adalah pembawa penyakit ini. Kolera dapat menyebabkan nyeri panggul dan muntah, karena ini merupakan gejala umum dari penyakit tersebut.

3. Leptospirosis

Beberapa wilayah di Indonesia merupakan daerah endemis untuk Leptospirosis dan sampai saat ini Leptospirosis masih menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat dengan terjadinya Kejadian Luar Biasa di beberapa wilayah.

Hal ini berkaitan dengan keberadaan faktor risiko yaitu tingginya populasi tikus sebagai reservoar Leptospirosis, buruknya sanitasi lingkungan serta semakin meluasnya daerah banjir di Indonesia. Leptospirosis disebabkan oleh bakteri yang disebut Leptospira yang terdapat dalam urin hewan seperti tikus, sapi dan kerbau.

Penularannya bisa terjadi melalui luka terbuka atau melalui kulit yang berada di dalam air dalam waktu yang lama atau selaput lendir mata dan mulut. Gejalanya adalah flu normal dengan sakit kepala, demam, nyeri otot, infeksi mata merah dan mata berair. Jika penyakit ini tidak terdeteksi tepat waktu, penderita mungkin dapat mengalami koma.

Penyebaran penyakit ini dapat meluas ke wilayah lainnya akibat air banjir ke beberapa daerah dimana urine tikus yang mengandung kuman Leptospira mencemari air yang menggenang. Untuk menghindarinya, ketika sedang melewati banjir sebaiknya gunakan sepatu bot karet setiap kali berjalan di dalam air saat banjir.

4. Hepatitis A

Peradangan sel hati menyebabkan hati atau liver berfungsi tidak normal. virus yang menyebabkan peradangan ini adalah hepatitis A. Penyakit ini bisa disebabkan karena makanan yang tidak higienis atau tidak dimasak. Gejala umumnya adalah demam ringan, kehilangan nafsu makan, sakit perut dan mata kuning.

5. Demam Berdarah

Demam berdarah disebabkan oleh infeksi virus Aedes aegypti. Ini adalah penyakit yang umum terjadi saat musim hujan karena nyamuk. Beberapa gejala umum penyakit ini adalah kehilangan nafsu makan, muntah, nyeri otot, kulit kemerahan dan bercak darah pada kulit.

6. Hipotermia

Hipotermia adalah keadaan darurat medis yang terjadi ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada menghasilkan panas. Ini menyebabkan suhu tubuh sangat rendah yaitu di bawah 35 derajat celcius.

Anak-anak dan orang tua berisiko mengalami hipotermia selama banjir. Gejalanya tergantung pada tingkat keparahan hipotermia. Hipotermia ringan, ada rasa menggigil dan kebingungan mental. Pada hipotermia sedang, ada peningkatan risiko kebingungan mental, bicara cadel dan refleks menurun saat menggigil berhenti. Pada hipotermia parah juga bisa terjadi halusinasi.

Itulah beberapa penyakit akibat banjir yang mungkin bisa saja menyerang masyarakat yang terkena dampak banjir bandang di Sukabumi.



Simak Video "Rawan Hipotermia saat Banjir, Begini Cara Mencegahnya"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/pal)