Jumat, 25 Sep 2020 11:04 WIB

COVID-19 Belum Usai, Eropa Dilanda Satu Penyakit Mematikan Lagi

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Kasus Covid-19 Meningkat, Mampukah Eropa Hindari Lockdown Kedua? Pandemi Corona di Eropa. (Foto: DW (News))
Jakarta -

Saat ini Eropa tidak hanya dilanda pandemi virus Corona, tetapi juga flu. Terkait kondisi ini, pejabat kesehatan Uni Eropa memperingatkan akan risiko dari serangan epidemi ganda (twindemic) yang mematikan.

"Sangat jelas bahwa krisi ini tidak ada di belakang kami. Kami berada pada momen yang menentukan," ujar Stella Kyriakides, komisaris kesehatan Uni Eropa saat jumpa pers yang dikutip dari Reuters, Jumat (25/9/2020).

Penyakit flu ini mulai muncul di saat musim dingin semakin mendekat di wilayah Eropa. Melihat kondisi ini, Kyriakides memperingatkan juga risiko 'twindemic COVID-19 dan flu' yang berpotensi mematikan.

Hal ini juga mendesak perintah agar mendorong masyarakat untuk mendapatkan vaksin flu musiman dan mematuhi aturan jarak sosial, untuk mengurangi penularan virus Corona.

"Ini mungkin menjadi kesempatan terakhir kami untuk mencegah terulangnya kejadian di musim semi lalu," kata Kyriakides.

Berdasarkan hasil penelitian para ilmuwan di Public Health England (PHE) yang dirilis minggu ini, menunjukkan bahwa adanya risiko kematian lebih dari dua kali lipat pada orang yang dites positif flu dan COVID-19, dibandingkan dengan mereka yang hanya terinfeksi COVID-19. Selain itu, orang dewasa yang terpapar flu bisa berisiko tinggi terinfeksi COVID-19, maupun sebaliknya.

Penyakit flu musiman di Eropa ini menyebabkan antara 4 dan 50 juta infeksi setiap tahun, tergantung keparahan musim flu yang melanda wilayah tersebut. Setiap tahun, diperkirakan 15.000 sampai 70.000 orang Eropa meninggal karena flu.

Kyriakides dan Andrea Ammon selaku direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Eropa, mengatakan telah terjadi peningkatan yang mengkhawatirkan dalam kasus COVID-19 sejak Agustus lalu, dengan beberapa negara sudah melihat jumlah kasus yang lebih tinggi daripada selama periode puncak pada Maret lalu.

"Ini sebagian bisa dijelaskan dengan strategi pengujian yang ditingkatkan," ujar Ammon.

"Namun, ada beberapa negara yang tampaknya sekarang mengalami kemajuan lagi dari transmisi lokal terbatas menuju transmisi komunitas yang berkelanjutan. Pandemi masih jauh dari kata selesai, dan kita tidak boleh lengah," lanjutnya.



Simak Video "Nasib Akupunktur di Masa Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)