Senin, 28 Sep 2020 14:59 WIB

Keluarga Sudah Kena, Masih Anggap COVID-19 Rekayasa? Ini Bahayanya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Terhitung sudah 6 bulan sejak pemerintah mengumumkan kasus Corona pertama di Indonesia pada 2 Maret lalu. Kini, Per 2 September angka kasus positif COVID-19 telah mencapai 180 ribuan jiwa. Sejumlah petugas mengubur jenazah COVID-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Rabu (2/9/2020). Menurut petugas akhir-akhir ini aktivitas penguburan meningkat. Masih banyak yang menganggap virus Corona hanya rekayasa. (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Penularan virus Corona COVID-19 mulai masuk ke lingkaran dekat, yakni keluarga. Banyak yang semula ragu bahwa penyakit ini nyata, lalu berubah pikiran ketika ada anggota keluarganya yang terinfeksi.

Mirisnya, ada juga yang tetap percaya bahwa COVID-19 cuma rekayasa meski keluarganya sudah ada yang terinfeksi. Beberapa di antaranya menganggap COVID-19 itu hanyalah akal-akalan pemerintah, sehingga enggan untuk melakukan tes Corona.

Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Dr dr Tri Yunis Miko Wahyono, MSc, menyebut fenomena seperti ini membuat risiko penularan Corona di keluarga semakin tinggi.


Hal ini diyakini Miko menjadi pelajaran bahwa sosialisasi edukasi terkait COVID-19 belum maksimal. Sehingga masih ada saja yang menganggap COVID-19 itu hoax.Adanya sebagian kalangan yang percaya konspirasi dan enggan dites COVID-19 tentu akan membuat pandemi Corona berlangsung lebih lama lagi. Apalagi, hingga kini puncak kasus Corona di Indonesia belum terjadi usai 6 bulan lebih menghadapi wabah.

"Memang masih banyak keluarga yang percaya bahwa virus Corona itu adalah konspirasi, itu hoax, dan dipercaya oleh segelintir orang. Berarti itu kan jadi pelajaran buat kita bahwa edukasi dari pemerintah itu mungkin nggak sampai ke dia begitu," sebut Miko saat dihubungi detikcom, Senin (28/9/2020).

Bagaimanapun juga, hal utama yang bisa dilakukan adalah dengan kembali menekankan bahaya nyata dari COVID-19.

"Menegaskan bahwa ini bukan suatu konspirasi, ini kecelakaan keadaan nyata,"pungkasnya.



Simak Video "Nasib Akupunktur di Masa Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)