Rabu, 30 Sep 2020 13:37 WIB

Uji Klinis Vaksin COVID-19 Sinovac di Bandung Dikebut

Yudha Maulana - detikHealth
Female doctor holding a syringe Uji klinis vaksin COVID-19 dikebut (Foto: thinkstock)
Bandung -

Pelaksanaan uji klinis fase III kandidat vaksin COVID-19 dari China terus dikebut oleh peneliti dari Universitas Padjadjaran dan Biofarma. Hingga hari ini, Rabu (30/9/2020), tercatat 1.089 orang relawan telah mendapatkan suntikan pertama dari vaksin tersebut.

Manajer Lapangan Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 dari Unpad Eddy Fadlyana melaporkan 1.447 orang tengah menjalani proses skrining (v0), 1.089 telah mendapatkan vaksinasi pertama (v1), 650 orang telah mendapatkan vaksinasi kedua (v2) dan 110 orang telah diambil sampel darahnya (v3).

"Hari ini ada kegiatan v3," ujar Eddy singkat saat dihubungi, Rabu (30/9/2020).

Seperti diketahui, 1.620 relawan yang mengikuti uji klinis ini akan dipantau secara intensif oleh tim riset. Tiap relawan dibekali kertas laporan, untuk mengeluhkan gejala-gejala yang dirasakan berikut kadar gejala yang dirasakannya setelah menerima suntik vaksin.

Dari sumber detikcom, hari ini pun Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil akan diambil sampel darahnya di Puskesmas Garuda, Kota Bandung. Seperti diketahui, ada enam lokasi uji klinis yakni RSPD UNPAD, Balai Kesehatan UNPAD, Puskesmas Garuda, Puskesmas Sukapakir, Puskesmas Ciumbuleuit dan Puskesmas Dago.

Ketua Tim Riset Vaksin dari Fakultas Kedokteran Unpad Prof Kusnandi Rusmil mengatakan, jumlah relawan yang diperiksa akan ditambah dua kali lipat dari satu titik penelitian.

"Jadi umpamanya dalam satu tempat penelitian itu dimulai jam 11, nah nanti kita minta dua kali dari jam 11 sampai jam 3 misalnya. Jadi dua kali lpat, surveinya lebih cepat, jadi misal dari sepuluh (calon relawan vaksin) perhari menjadi dua puluh perhari gitu ya," ujar Kusnandi di Puskesmas Garuda, Kota Bandung, Selasa (25/8/2020).

"Jadi nanti kita Oktober sudah bisa bikin laporan, sehingga pada akhir tahun ini kita bisa siap produksi vaksin," imbuh guru besar UNPAD itu.

Kusnandi membeberkan, alasan uji klinis ini dikebut karena sampai saat ini belum ditemukan obat yang secara ilmiah dan efektif bisa menyembuhkan pasien yang terpapar virus Corona.

"Kita belum punya obat, orang sudah bergelimpangan, jadi saya butuh subjek yang cukup, jadi ditambah saja subjeknya. Jadi sudah memenuhi kriteria daripada statistik," ucapnya.



Simak Video "Respons Kekebalan yang Diharapkan dari Vaksinasi COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(yum/up)