Kamis, 01 Okt 2020 18:32 WIB

Selain Indonesia, 6 Negara Ini Juga Pakai Remdesivir untuk Obat COVID-19

Ayunda Septiani - detikHealth
Lolos di AS, Obat Virus Corona Remdesivir Masih Diperdebatkan di Australia Daftar negara yang menggunakan remdesivir untuk pengobatan pasien COVID-19. (Foto: ABC Australia)
Jakarta -

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menyetujui penggunaan remdesivir untuk pengobatan pasien virus COVID-19 di Indonesia. Obat ini pun akan diuji coba terlebih dahulu pada 25 pasien di RS Persahabatan, Jakarta timur.

"Sebagai obat yang memang merupakan salah satu yang masuk kepada protokol pengobatan, tentu saja para dokter bergembira, dan untuk pertama kalinya remdesivir ini akan kita uji cobakan di RS Persahabatan ya, untuk di awal pada 25 pasien," beber dr Erlina Burhan, SpP, dokter paru dari RS Persahabatan, dalam media briefing Kamis (1/10/2020).

dr Erlina menjelaskan, remdesivir adalah obat yang sukses dipakai untuk mengobati beberapa pasien Ebola. Cara kerja remdesivir diyakini bisa menghentikan replikasi virus.

Dikutip dari berbagai sumber, tidak hanya Indonesia, beberapa negara ini juga setujui penggunaan remdesivir untuk obati pasien virus Corona. Mana saja?

1. Amerika Serikat

Beberapa waktu lalu Badan Pengawasan Obat dan Makanan (FDA) di Amerika Serikat (AS) saat ini memang belum menyetujui obat apa pun untuk pengobatan virus Corona. Tetapi mereka berencana untuk menyetujui remdesivir sebagai pengobatan untuk pasien virus COVID-19.

"Sebagai bagian dari komitmen FDA untuk mempercepat pengembangan dan ketersediaan pengobatan COVID-19 yang potensial, agensi tersebut sedang berdiskusi dengan Gilead Sciences mengenai pembuatan remdesivir agar tersedia untuk pasien secepat mungkin, sebagaimana diperlukan," ucap juru bicara FDA, Michael Felberbaum.

Pada percobaan awal, penggunaan remdesivir menunjukkan tingkat pemulihan yang lebih cepat pada pasien yaitu dari 15 hari bisa menjadi 11 hari. Hal ini mirip dengan efek tamiflu terhadap penyakit flu, karena obat itu dapat menyembuhkan pasien lebih cepat.

"Data menunjukkan bahwa remdesivir memiliki dampak positif yang jelas signifikan dalam waktu pemulihan," ucap Dr Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS (NIAID).

2. Jepang

Setelah uji klinis di Amerika Serikat (AS) dinilai berhasil obati Corona dan mendapatkan persetujuan dari Food and Drug Administration (FDA). Pemerintah Jepang pun menyetujui penggunaan remdesivir pada Kamis (7/5/2020).

Hal ini menjadi negara kedua yang menggunakan remdesivir sebagai obat Corona."Remdesivir disetujui berdasarkan tindakan luar biasa," kata seorang pejabat kementerian kesehatan Jepang, dikutip dari Channel News Asia Jumat (8/5/2020).

"Itu adalah persetujuan pertama negara kami untuk perawatan pasien coronavirus," kata pejabat itu kepada AFP.

Hingga kini Kamis (1/10/2020), Jepang mencatat 83.010 kasus COVID-19 dengan 1.564 kematian. Sebagian besar pasien telah sembuh dan hanya tersisa 5.421 kasus aktif.

3. Singapura

Remdesivir juga digunakan di Singapura untuk mengobati pasien virus COVID-19. Otoritas Kesehatan Singapura (HSA) pada hari Rabu (10/6/2020) lalu memberikan persetujuan bersyarat untuk obat eksperimental dari Gilead Sciences remdesivir untuk mengobati infeksi virus Corona COVID-19, menurut pernyataan resmi.

Pemerintah Singapura mengatakan walaupun data tentang keamanan dan kemanjuran remdesivir 'sangat terbatas' HSA mempercepat tinjauan remdesivir yang diberikan pada pasien Corona.

Persetujuan Singapura untuk penggunaan bersyarat mengikuti langkah-langkah serupa yang diambil oleh negara-negara seperti AS, di mana Food and Drug Administration (FDA) memberikan otorisasi darurat remdesivir pada 1 Mei. Jepang, di mana obat itu diberikan persetujuan darurat untuk digunakan pada 7 Mei. India pada 1 Juni, dan Inggris.

4. Taiwan

Pemerintah Taiwan pada Sabtu (30/5/2020) lalu mengatakan menyetujui penggunaan remdesivir untuk mengobati pasien virus Corona COVID-19.

Pusat Komando Epidemi Taiwan (CECC), menyebutkan Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan Taiwan mempertimbangkan fakta bahwa keamanan remdesivir telah didukung oleh bukti awal dan penggunaannya disetujui oleh sejumlah negara lain.

Atas dasar itu, CECC berpendapat bahwa persyaratan telah terpenuhi bagi persetujuan penggunaan remdesivir pada pasien infeksi COVID-19 yang dalam kondisi yang parah.

Hingga kini Kamis (1/10/2020), Taiwan mencatat 515 kasus COVID-19 dengan tujuh kematian. Sebagian besar pasien telah sembuh dan hanya tersisa 24 kasus aktif.

5. Korsel

Mengutip dari CNA, Pada Rabu (3/6/2020), Korea Selatan (Korsel) mengizinkan penggunaan darurat obat remdesivir untuk pengobatan pasien Corona.

"Remdesivir membantu mengurangi jumlah virus Corona dalam tubuh pasien," kata Kementerian Keamanan Pangan Korsel.

"Ini bisa membuat kondisi pasien pulih lebih cepat," lanjutnya.

Di bawah pedoman yang dikeluarkan pemerintah Korsel, dokter dapat memberikan satu dosis remdesivir dalam sehari, dengan lima dosis untuk pasien dengan gejala sedang, dan sepuluh dosis untuk pasien dengan gejala berat.

Namun, tak semua pasien bisa diberikan remdesivir. Sebelum diberikan obat tersebut, pasien harus menjalani tes fungsi hati terlebih dahulu. Sebab, penggunaan remdesivir dapat memberikan efek samping berupa peningkatan kadar enzim dalam hati.

6. Inggris

Mengutip dari laman BBC, Sekretaris Kesehatan Inggris Matt Hancock mengatakan perkembangan remdesivir adalah langkah maju terbesar dalam pengobatan virus Corona COVID-19 sejak wabah ini dimulai. Remdesivir adalah obat yang telah digunakan melawan untuk Ebola.

Regulator Inggris mengatakan ada cukup bukti untuk menyetujui penggunaannya pada pasien Corona. Meski begitu karena persediaan terbatas, remdesivir khusus ditujukan bagi pasien Corona yang diprioritaskan.



Simak Video "Mengenal Remdesivir, Obat Corona yang Disetujui BPOM RI "
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)