Sabtu, 17 Okt 2020 07:30 WIB

Serba-serbi Distosia, Penyebab Persalinan Tidak Lancar

Elsa Himawan - detikHealth
In the Hospital, Close-up Shot of the Doctor does Ultrasound / Sonogram Procedure to a Pregnant Woman. Obstetrician Moving Transducer on the Belly of the Future Mother. Mempersiapkan persalinan (Foto: iStock)

Berikut dampak-dampak distorsia:

1. Bahu bayi patah

Ukuran bayi yang terlalu besar bisa menyebabkan distosia bahu. Kondisi ini biasanya kepala bayi lahir tapi bahu tidak lahir. Untuk bisa mengeluarkan bayi, maka bahu bayi akan dipatahkan. Untuk itu, sebisa mungkin hal ini dicegah.

2. Kematian bayi

Distosia juga bisa menyebabkan bayi mati dalam kandungan. Apabila kondisi bayi, terutama bagian kepala sudah keluar, dalam durasi 5-10 menit tidak segera dikeluarkan maka bayi bisa mati.

3. Dinding rahim robek

Dinding rahim robek atau ruptur uteri, bisa menjadi salah satu komplikasi dari distosia. Dinding rahim yang robek terjadi karena adanya tindakan dalam usaha pervaginal untuk melahirkan janin pada uterus yang segmen bawahnya telah teregang karena adanya distosia. Namun, kemajuan dalam bidang kebidanan, dinding rahim robek bisa dicegah.

"Jika dibiarkan, maka ibu akan mengalami perdarahan hebat. Darah akan masuk ke dalam perut, ini bisa menyebabkan bayi meninggal dalam kandungan, dan bisa menyebabkan kematian pada ibu," ujar Dr Suskhan.

4. Fistula

Distosia bisa sebabkan ibu mengalami fistula. Kondisi ketika kencing keluar terus karena kandung kemihnya bolong. Ini diakibatkan tekanan akibat bayi besar, ibu yang terlalu banyak mengejan selama persalinan.

Solusi untuk ibu yang mengalami distosia:

1. Caesar

Apabila ukuran bayi besar dan adanya kelainan di punggung, maka tindakan yang akan dilakukan adalah caesar. Operasi caesar adalah jalan satu-satunya agar bayi dan ibu selamat apabila mengalami distosia.

2. Vakum

Apabila ibu mengalami Cephalopelvic disproportion (CPD) atau komplikasi kehamilan yang terdapat ketidaksesuaian ukuran antara panggul ibu dengan kepala janin. Tindakan yang bisa dilakukan menggunakan vakum.

3. Lakukan oksitosin

Jika tenaga ibu kurang, maka diberikan obat penambah kontraksi yakni oksitosin. Dengan begitu akan ada rangsangan tenaga untuk mendorong bayi bisa keluar dari jalan lahir.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3


Simak Video "Plasma Konvalesen Dapat Cegah Gawat Janin Pada Bumil Terpapar Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]