Selasa, 20 Okt 2020 12:34 WIB

Vaksinasi COVID-19 di RI Dimulai November, Ahli Khawatirkan Efektivitasnya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
vaksin Bakal disuntik November, ahli khawatirkan efektivitas vaksin COVID-19. (Foto ilustrasi: shutterstock)
Jakarta -

Kementerian Kesehatan memastikan ketersediaan vaksin COVID-19 untuk 9,1 juta orang mulai November hingga Desember. Pemberian vaksin COVID-19 tersebut baru diberikan jika sudah dipastikan keamanan dan kehalalannya.

Pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, PhD, menjelaskan penilaian efektivitas vaksin COVID-19 terbagi dua. Seseorang yang divaksin tidak akan lagi terinfeksi COVID-19 dan seseorang yang disuntik vaksin COVID-19 tetapi bisa tetap terinfeksi namun tidak jatuh sakit.

Jika efektifnya vaksin COVID-19 yang digunakan memiliki manfaat seperti tetap terinfeksi namun tidak jatuh sakit, Ahmad khawatir masih ada risiko penularan COVID-19. Terlebih saat mereka tidak mematuhi protokol kesehatan.

"Kalau misalnya orang yang divaksinasi itu tidak taat protokol kesehatan karena merasa kebal, mereka masih bisa menularkan orang yang divaksinasi dan itu kan bahaya sekali," jelas Ahmad saat dihubungi detikcom Selasa (20/10/2020).

"Dan ini potensi-potensi yang harus diperhatikan, dan itu dilihat dari datanya sebetulnya, datanya seperti apa. Jadi kalau komunikasinya keliru, nanti bermasalah," kata Ahmad.

Ahmad menilai pemberian vaksin COVID-19 harus diperhatikan lebih lanjut, hal ini dikarenakan pemberian emergency use authorization (EUA) pun tidak bisa sewenang-wenang.

"Nah tapi EUA juga nggak sewenang-wenang, mereka juga harus lihat data bocorannya, 2 hari yg lalu kan BPOM ke China menurut saya mereka sedang diberi tahu ini data yang mereka miliki," jelas Ahmad.

"Untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat itu disampaikan ke publik. Sehingga nanti mereka bisa bantu dukung, ilmuwan bisa membantu mendukung, kan harus berbasis data, jadi nanti makin kuat data ilmiahnya," lanjut Ahmad.

Ahmad juga menyoroti golongan antivaksin yang bisa saja mendapat celah untuk menyalahgunakan informasi.

"Jangan sampai kelompok-kelompok antivaksin dapat amunisi segar ketika data tidak transparan. Semakin kita transparan, semakin kita terbuka, itu akan membungkam kelompok-kelompok antivaksin," pungkasnya.



Simak Video "Sederet Fakta Vaksin COVID-19 Pfizer yang Uji Klinisnya Sudah Rampung"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)