Rabu, 21 Okt 2020 12:34 WIB

Beda Data Pasien COVID-19 Pemerintah Pusat dan Daerah, Kok Bisa?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Hotel Ibis Styles Mangga Dua, Jakarta, dijadikan tempat untuk isolasi mandiri pasien Orang Tanpa Gejala (OTG). Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Kasus harian infeksi COVID-19 masih terus bertambah setiap harinya. Saat ini angka positif COVID-19 nasional menyentuh rata-rata 3.000 per hari.

Data terkait penambahan kasus COVID-19 baik kasus baru, sembuh, dan meninggal, secara berkala diunggah Satgas COVID-19 setiap sore. Hanya saja ada perbedaan data dari pemerintah pusat dan daerah yang disampaikan di situs web tiap provinsi.

Contohnya di Jawa Tengah. Data pemerintah pusat menyebut jumlah pasien COVID-19 yang meninggal dunia di Jawa Tengah ada 1.607 orang. Namun data Pemprov Jateng per 20 Oktober mengumumkan jumlah akumulasi kasus COVID-19 yang meninggal ada 2.348 orang.

Menanggapi, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dr Yulianto Prabowo MKes mengatakan masalah perbedaan terjadi karena datanya dinamis. Alasan lain karena di beberapa puskesmas, terjadi double input data yang menyebabkan data pusat dan daerah tidak sinkron.

"Kami juga menemukan double input data... Ini sedang berlangsung verifikasi dan validasi tetapi perbedaan ini bukan masalah carut marut dan data ini dinamis dan memang kita perlu mencocokkan," katanya di webinar Kemenkes, Rabu (21/10/2020).

Soal perbedaan data pusat dan daerah, Sekjen Kementerian Kesehatan Oscar Primadi mengatakan alasan terjadinya ketidaksesuaian data salah satunya waktu penginputan sehingga verifikasi dan validasi data harus terus dilakukan.

"Makanya ada validasi dan verifikasi untuk pengharmonisasian. Misalnya ada kekurangan dari SDM yang menginput data ini yang kita perkuat," kata Oscar.

"Perbaikan sistem sudah terbangun. Kita sudah punya satu sistem yang sama dimanfaatkan dari daerah sampai pusat," tutupnya.



Simak Video "IDI Jelaskan Dugaannya Soal Perbedaan Angka Kematian COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)