Kamis, 22 Okt 2020 05:45 WIB

Pertama di Eropa, Spanyol Catatkan 1 Juta Kasus COVID-19

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. VIrus Corona COVID-19 (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Spanyol menjadi negara pertama di Eropa bagian barat yang mencatatkan lebih dari 1 juta kasus positif COVID-19. Jumlah kasus di negara ini berlipat ganda hanya dalam 6 pekan meski telah memperketat penanganan untuk mengontrol gelombang kedua.

Data kementerian kesehatan setempat menyebut total kasusnya mencapai 1.005.295, naik 16.973 dari hari sebelumnya. Jumlah kematian meningkat 156 kasus menjadi 34.366 kasus.

Setelah melambat ketika lockdown ketat pada Maret hingga Juni, jumlah kasus meningkat pesat hingga beberapa kali melebihi 10.000 kasus perhari sejak akhir Agustus. Puncaknya pekan lalu melampaui 16 ribu kasus perhari.

Banyak yang menyalahkan keburu-buruan mencabut pembatasan serta kelelahan dengan pedoman pembatasan sosial.

"Kami kurang bertanggung jawab, kami suka party, bertemu keluarga," kata bankir Carolina Delgado, dikutip dari Reuters, Kamis (22/10/2020).

"Kami tidak menyadari, satu-satunya jalan adalah social distancing, sesimpel tidak bertemu banyak orang, mengenakan masker saat bertemu teman," lanjutnya.

Dr Rafael Bengoa dari Bilbao's Institute for Health and Strategy juga mengatakan hal serupa. Buru-buru melonggarkan pembatasan sebelum sistem tracing berjalan membuat penularan jadi lebih cepat dari negara lain.

Selain itu, ia juga menyinggung polarisasi politik yang terjadi.

"Para politisi hanya nyaman dengan kesederhanaan jangka pendek. Secara ideologis memotivasi debat, tetapi virus tidak peduli ideologi," katanya.



Simak Video "Spanyol Catatkan 1 Juta Kasus Positif Baru Corona!"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)