Kamis, 22 Okt 2020 11:54 WIB

Gadis 14 Tahun Ini Dapat Ratusan Juta Usai Temukan Terapi Corona

Ayunda Septiani - detikHealth
RIO DE JANEIRO, BRAZIL - JUNE 05: Andre Magalhaes, nurse, donates plasma through a process called plasmapheresis at Hemorio amidst the coronavirus (COVID-19) pandemic on June 5, 2020 in Rio de Janeiro, Brazil. Hemorio is one of the institutions that uses plasma transfusion technology, when the blood of patients that survived COVID-19 is utilized to strengthen the immunity of other victims infected by the virus. Hematologist Alvaro Dalincourt works at Hemorio on the front lines of fighting the virus, and is happy with the results of the transfusions. He claims two employees had the disease and responded very well to the use of plasma. (Photo by Buda Mendes/Getty Images) Gadis 14 tahun temukan terapi untuk COVID-19. (Foto ilustrasi: Getty Images/Buda Mendes)
Jakarta -

Seorang gadis berusia 14 tahun bernama Anika Chebrolu berhasil menemukan terapi potensial untuk pasien COVID-19. Ia pun memenangkan uang ratusan juta atas penemuannya ini.

Gadis dari Frisco, Texas, ini adalah pemenang 3M Young Scientist Challenge tahun 2020. Total hadiah yang diterimanya sekitar Rp 366 juta.

Gadis tersebut menggunakan metodologi in-silico untuk terapi flu biasa. Namun, akhirnya metode ini digunakan untuk SARS-CoV-2.

"Karena pandemi COVID-19 sangat parah dan dampaknya yang drastis terhadap dunia dalam waktu yang begitu singkat, saya, dengan bantuan mentor saya, mengubah arah untuk menargetkan virus SARS-CoV-2," jelas Anika, seperti dikutip dari laman CNN International.

Anika mengatakan bahwa ia terinspirasi untuk menemukan obat potensial untuk virus setelah belajar tentang pandemi flu 1918 lalu. Ia pun mencari tahu berapa banyak orang yang meninggal setiap tahun di Amerika Serikat meskipun vaksinasi tahunan dan obat anti influenza sudah tersedia.

"Anika memiliki pikiran yang ingin tahu dan menggunakan keingintahuannya untuk mengajukan pertanyaan tentang vaksin untuk Covid-19," papar Cindy Moss, juri untuk 3M Young Scientist Challenge.

"Pekerjaannya komprehensif dan memeriksa banyak database. Dia juga mengembangkan pemahaman tentang proses inovasi dan merupakan komunikator yang ahli," ujar Moss menambahkan.

Anika mengatakan memenangkan hadiah dan gelar ilmuwan muda papan atas adalah suatu kehormatan baginya, tetapi pekerjaannya belum selesai. Tujuan selanjutnya adalah, ia bekerja sama dengan para ilmuwan dan peneliti yang berjuang untuk mengendalikan morbiditas dan mortalitas pandemi dengan mengembangkan temuannya menjadi obat yang sebenarnya untuk virus tersebut.



Simak Video "Dugaan Kasus Reinfeksi Covid-19 Pertama di Korsel"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)