Kamis, 22 Okt 2020 20:04 WIB

Deretan Bukti Uji Klinis Vaksin COVID-19 Tak Selalu Berjalan Mulus

Ayunda Septiani - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Virus Corona COVID-19. (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Hingga saat ini masih belum ada vaksin COVID-19 yang benar-benar siap pakai, dalam arti telah menyelesaikan uji klinis lalu secara resmi dinyatakan aman dan manjur. Meski demikian, sudah ada 10 kandidat vaksin Corona di seluruh dunia saat ini dalam uji klinis tahap akhir.

Uji klinis vaksin COVID-19 tak selalu berjalan mulus. Keluhan yang dialami relawan menjadi salah satu penyebab beberapa uji klinis COVID-19 ditunda terlebih dahulu.

Apakah berarti kandidat vaksin tersebut tidak aman? Jelas tidak bisa langsung disimpulkan demikian, karena faktanya tidak semua relawan uji klinis mendapat suntikan vaksin. Sebagian di antaranya mendapatkan plasebo atau obat kosong yang fungsinya sebagai pembanding. Sangat mungkin yang sakit atau meninggal adalah relawan penerima plasebo.

Sekalipun relawan yang sakit adalah penerima vaksin, tidak serta merta bisa dikaitkan dengan efek vaksin. Ada berbagai macam faktor yang mempengaruhi, termasuk kondisi maupun riwayat kesehatan yang bersangkutan.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa kendala yang terjadi dalam uji klinis vaksin COVID-19.

1. Relawan meninggal di Brasil

Salah satu relawan uji klinis vaksin COVID-19 AstraZeneca meninggal di Brasil. Hingga saat ini tidak ada keterangan resmi apakah relawan tersebut menerima suntikan vaksin atau plasebo.

Meski begitu, uji klinis vaksin yang dikembangkan oleh AstraZeneca bersama Universitas Oxford ini akan tetap dilanjutkan. Pihak Oxford mengatakan bahwa tidak ada kekhawatiran terkait keamanan uji klinis tersebut.

Pihak Universitas Federal Sao Paulo yang membantu mengkoordinasikan uji klinis ini mengatakan, akan mengikuti langkah selanjutnya.

"Terserah pada dewan peninjau independen untuk memutuskan apakah uji coba ini akan terus dilanjutkan atau tidak," kata juru bicara universitas, dikutip dari Reuters, Kamis (22/10/2020).

2. Gangguan neurologis

Awal September 2020, AstraZeneca juga sempat menghentikan uji klinis tahap III vaksin COVID-19 yang dikembangkan bersama dengan Oxford University di seluruh dunia. Hal ini disebabkan karena salah satu relawan di Inggris mengalami efek samping berupa penyakit aneh yang tidak bisa dijelaskan.

"Sebagai bagian dari pelaksanaan uji coba global secara acak dan terkendali dari vaksin Oxford, berdasarkan standar kali, (maka kami) melakukan penundaan vaksinasi untuk melakukan peninjauan data keamanan vaksin," tulis AstraZeneca dalam pernyataanya yang dikutip dari CNN International, Rabu (9/9/2020).

Penghentian uji klinis ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kasus yang sama. Meski kabar ini sudah beredar, pihak AstraZeneca tidak mengungkapkan reaksi efek samping seperti apa yang muncul pada pasien.

Perusahaan ini menguji vaksin buatannya di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, Amerika Latin, Eropa, dan Afrika. Sejumlah negara akhirnya melanjutkan uji klinis tersebut setelah dipastikan tidak ada kaitan dengan efek vaksin.

3. Unexplained illness

Pekan lalu Johnson & Johnson menghentikan uji klinis kandidat vaksin COVID-19 buatannya karena salah seorang relawan mengalami 'unexplained illness'.

Selama uji klinis dihentikan sementara, badan pengawas keamanan akan mengevaluasi kondisi relawan tersebut. Temuan dari evaluasi tersebut nantinya dikirim ke US Food and Drug Administration (FDA) sebelum uji klinis bisa dilanjutkan lagi.

"Akan butuh beberapa hari minimal agar informasi yang tepat bisa dikumpulkan dan dievaluasi," kata Mathai Mammen, kepala penelitian dan pengembangan Johnson & Johnson, dikutip dari Reuters, Rabu (14/10/2020).

Mammen juga mengatakan, perusahaan tidak tahu apakah relawan yang sakit mendapatkan suntikan vaksin atau plasebo. Ini dikarenakan studi dilakukan secara blinded.



Simak Video "Sederet Fakta Vaksin COVID-19 Pfizer yang Uji Klinisnya Sudah Rampung"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)